Wanita Bekerja = Kebutuhan, Keharusan, Keterpaksaan?

Postingan ini berawal dari survey (ceilahhhh) 🙂 yang kulakukan beberapa waktu lalu. Survey-nya sendiri tidak dilakukan secara langsung dengan meminta volunteer mengisi formulir kuesioner kayak mo bikin skripsi lho ya…tp melalui bincang2 santai aja. Pertanyaan awal ya..muter2 dulu lah…,mulai dari nanya urusan keluarga, anak sampe akhirnya bertanya kenapa memilih bekerja (istilah kerennya ngerumpi dulu…hihi) eh…ngerumpi boleh kan ya? yang gak boleh kan nggosip 😦 .
Dan hasilnya dari sekian banyak wanita (baca= Ibu rumah tangga yang bekerja diluar rumah) yang sudah kuajak ngerumpi, terbagi menjadi 3 Kategori ini :

1. Bekerja karena KEBUTUHAN

Yang dimaksud disini bukan kebutuhan dalam arti butuh nambah duit buat perekonomian keluarga…karena rata2 suami mereka juga berpenghasilan lumayan dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga tanpa si Ibu harus bekerja diluar rumah, tapi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Kebutuhan untuk dihargai. Kebutuhan untuk menyalurkan ‘bakat terpendam’ (halah istilahnya itu lho.. 😉 ). Kebutuhan untuk bersosialisasi/berinteraksi dengan dunia luar. Kebutuhan untuk terus berkembang dan mengembangkan diri…pokoknya yaaa..gitulah…

2. Bekerja karena KEHARUSAN

Nah..kalau kategori yang ini barulah bekerja karena keharusan membantu suami dalam menafkahi keluarga. Rata-rata mereka bekerja karena penghasilan para suami tidak cukup untuk membiayai beban rumah tangganya. Jadi..ya..memang harus keluar rumah untuk bekerja dan mendapat tambahan duit.

3. Bekerja karena KETERPAKSAAN

Pada kategori ini, si Wanita sebenarnya tidak ingin bekerja, ingin di rumah saja melaksanakan tugasnya sebagai seorang Ibu rumah tangga dalam membimbing dan membina putra-putrinya. Tapi karena adanya dorongan/paksaan/tekanan untuk tetap bekerja dari lingkungan sekitar maka dia harus bekerja keluar rumah. Dorongan/paksaan/tekanan itu bisa berasal dari keluarga sendiri, keluarga suami, lingkungan tempat tinggalnya/lingkungan sosialnya dsb.

Nah…dari ketiga kategori di atas, sebenarnya yang paling asyik itu ya kategori pertama dimana sang wanita/Ibu bekerja karena memang ia ingin bekerja (menurutku lho…).
Tapi itu baru survey kecil2an yang kulakukan dilingkungan tempat kerjaku…mungkin kalau diperluas survey-nya, pengkategoriannya bisa bertambah, misalnya menjadi kategori gabungan antara kategori 1 dan 3, gabungan kategori 2 dan 3 atau gabungan kategori 1 dan 2 or malah nambah lagi jenis kategorinya.

Hehe…jadi pingin bikin survey yang lain lagi nih… (sshhhhahhh..maksudnya pingin ngerumpi lagi wakwkwkwkwkwaaaakkkk) 🙂

Advertisements

27 oktober 2010

27 oktober 2010 adalah tanggal saat Yang Kuasa berkenan memanggil kembali lelaki yang telah berjasa dalam kehidupanku
Lelaki perkasa yang tak pernah silau akan dunia
Lelaki yang zuhud dalam menapaki kehidupannya
Lelaki yang penuh tanggungjawab dalam memimpin keluarganya.
27 Oktober 2010 adalah saat dimana Yang Kuasa berkehendak mengambil ruh yang tertanam dalam raga bapak
seorang bapak yang penuh kasih dalam membimbing putri-putrinya
seorang bapak yang tak hendak meninggalkan beban hutang terhadap keluarga yang ditinggalkannya walau sepeserpun.
27 Oktober 2010 adalah waktu saat Yang Maha Memiliki Kehidupan menginginkan mengambil sebuah kehidupan yang telah dianugerahkanNya pada hambaNya dalam rentang waktu 72 tahun
rentang kehidupan yang penuh pelangi, suka,cita, perjuangan, pengharapan, kepasrahan…

Selamat jalan Bapak…semoga Allah selalu melapangkan kubur Bapak, melindungi Bapak dari siksa kubur dan siksa neraka, mengampuni segala dosa-dosa Bapak , menerima segala amal kebaikan yang tlah Bapak tanam dalam kehidupan ini dan menempatkan Bapak dalam surga-Nya. Amin.

Terima kasih yang tak terkira kuhaturkan padamu Bapak, atas segala yang telah Bapak perjuangkan untuk kami, putri-putrimu, atas segala cinta dan kasih sayang yang telah Bapak curahkan dalam kehidupan kami, atas segala rindu yang mungkin belum sempat kami balaskan karena jarak dan waktu.

Selamat jalan Bapak, do’a kami akan selalu menyertaimu.

I LOVE YOU ALWAYS….

Lagu anak2 jadul

Kemarin baca threat tentang Agnes Monica di sebuah web, membaca komen para member tentang sang artis, ada yang pro ada yang kontra (biasalah…) jadi teringat lagu anak2 pada masa saya kecil dulu (g nyambung ya?…nyambung dong kan si Agmon dulu juga penyanyi cilik 🙂 ). Ada Chicha Kuswoyo, ada Adi Bing Slamet, ada Fitria Elvie Sukaesih, Diana Papilaya, Dina Mariana de el el (meski pada waktu saya kecil mereka sudah beranjak remaja..).
Sampai sekarang masih inget beberapa lagu mereka…dan sampai sekarang pun masih terasa betapa menyenangkannya menyanyikan lagu2 mereka *nerawang mode on* Terkadang saya masih menyenandungkan lagu2 itu untuk anak2 saya.
Kalau dirasa-rasa…lagu anak2 jaman dulu lebih mengena buat anak2, liriknya yang ceria dan musiknya yang tidak terlalu berat walau juga g bisa disebut ringan (jika dibandingkan dengan genre musik dewasa jaman itu juga lho…) bisa menggiring anak2 untuk memahami pesan2 yang ingin disampaikan melalui lagu…seperti lirik lagu KERANJANG SAMPAH yang dinyanyikan Chicha dan Helen Kuswoyo

Keranjang sampah banyak gunanya
meskipun jelek bentuk rupanya
siapa tahu jasa-jasanya
keranjang sampah banyak gunanya

Reff. Aku…. tahu……
apa gunanya
Tempat…barang….
yang tak berguna…

Lagu itu dulu saya gunakan untuk membuat anak2 saya terbiasa membuang sampah pada tempatnya, tidak hanya saat di rumah namun juga saat di luar rumah. Hingga saat inipun anak-anak tak pernah membuang sampah sembarangan hingga saking mengenanya anak2 bahkan selalu menyelipkan bungkus permen atau bungkus jajanan didalam sakunya jika belum menemukan tempat sampah diperjalanan dan baru membuangnya ketika sampai di rumah (di keranjang sampah tentunya 🙂 )

Atau lagu untuk menyayangi adik kecil yang dinyanyikan Chicha Kuswoyo juga (lupa judulnya…hiks 😦 )

Goyang-goyang duduk dikursi goyang
Malas-malas duduk di kursi malas
Adik kecil itu mau disayang
Kalau nakal tak perlu kau membalas

Reff. Mang timang timang
Adikku sayang
Mang timang timang
Adikku sayang

Bukan beras sembarang beras oi beras yang asli dari Bekasi 2X
Tali tambang siikat kembang oi gendang dipukul si lagu dangdut 2X
dangdut dangdut
dangdut dangdut
dang dang dangdut dut dut….
(lagunya Adi Bing Slamet dan Fitria Elvie Sukaesih..musiknya ceria buanget, sayang g inget liriknya secara full)

Atau lagu-nya Chicha yang judulnya Heli (Top banget kala itu)

Aku punya anjing kecil
kuberi nama Heli
dia senang bermain-main
sambil berlari-lari

Reff. Heli (guk..guk..guk)
Kemari (guk..guk..guk)
Ayo lari lari
Heli (guk..guk..guk)
Kemari (guk..guk..guk)
Ayo lari-lari.
(meski saya tidak punya gukguk..saya senang menyanyikannya hehehe…)

*nginget-inget lagu apa lagi yaaa……*
🙂

Saat anakku bertanya “sunat itu sakit g, bu?”

Yup…begitulah pertanyaan anak sulungku yang saat ini sudah menginjak usia 9 tahun. Percakapan yang terjadi pada pukul 20.00 saat aku sedang melepas lelah setelah mandi dan makan malam sedang suamiku belum pulang.
Awalnya anakku itu bercerita tentang teman2 nya yang sebagian sudah dikhitan (sunat) lalu lama2 nyerempet ke dirinya sendiri yang kebetulan belum berkhitan.
Begini dialog lengkapnya * mohon maaf jika ada kata2 yang agak kurang pantas untuk ditulis 🙂 *
Anakku (A) :”Bu, kakak kan sekarang udah 9 taun ya…berarti sebentar lagi kakak harus sunat dong…”
Aku (I): ” Ya iyalah…kan udah gede”
A :” Kalau sunat itu sakit g sih,Bu?”
Aku diam sejenak, mikir, kalau kubilang sakit nanti dia g berani di khitan karena kebetulan anakku itu takut ngelihat darah dan kalau luka sedikit jejeritannya udah ampun-ampunan. Tapi kalau kubilang g sakit berarti bohong padahal selama ini apapun selalu kusampaikan dengan jujur kepadanya…*menimbang2 mode on*
I : ” Ya..sebenarnya sakit juga sih Kak, tapi kan udah dibius dulu jadi g bakal kerasa”
A : “Dibius dulu ya Bu?”
Aku mengangguk
A: “Tapi kan kalau dibius berarti sakit juga..kan disuntik dulu”
I: ” Iya, sakit sedikit seperti digigit semut”
Dia diam sejenak..seperti sedang membayangkan sakitnya disuntik or mungkin membayangkan sakitnya digigit semut…..
A: ” Yang disuntik yang mananya, Bu? tititnya?”
Aku gelagapan sejenak…bingung mau jawab apa, karena selama ini aku juga belum pernah menyaksikan secara langsung proses khitan hanya mendengar ceritanya saja. Sambil sedikit mengernyit dan ragu sedikit aku mencoba menjawab
I: “Bukan, bukan pas di tititnya Kak, tapi dibagian atas titit” (bener g sih? 😦 )
A: ” Di atas sini Bu?” (sambil menunjuk)
Aku mengangguk sok tahu…
A: ” Hi…..tetep aja sakit Bu”
I: “Iya, tapi kan sebentar doang, habis itu kan jadi baal, baru disunat”
(Kebetulan anakku termasuk yang hobi baca, jadi untuk beberapa kata dia sudah mengerti tanpa harus dijelaskan, seperti kata baal diatas)
Kulirik anakku, dia sedang sibuk membolak-balik buku yang sedari tadi dipegangnya. Kupikir tak akan ada lagi pertanyaan, tapi ternyata…..
A: “Bu, kata ayah, kalau orang dulu sunatnya pake golok ya….”
Aku tersenyum, teringat suamiku yang suka bercanda dengan menakut2i anakku
I: ” Iya mungkin”
A: ” Trus g pake dibius ya Bu…hi….” Kulihat mimik wajahnya yang meringis seakan merasakan sakitnya….
I: ” Dulu banget, kan dulu belum ada obat bius. Tapi pasti adalah kak cara untuk menghilangkan sakit waktu sunat. Ibu pernah baca ada satu tradisi dimana sebelum disunat si anak disuruh berendam dulu dalam air dingin selama beberapa lama, nah..kalau anak itu sudah merasa kedinginan baru disunat”
A: “O..kakak tau, karena kedinginan kan jadinya saraf2 perasanya jadi diam ya Bu, jadi g bisa ngerasa sakit lagi. Itukan kayak waktu ke dokter gigi, sebelum dicabut giginya dikompres dulu pake alkohol jadinya dingiiiiin banget…hehe…”
Aku mangut-manggut.
A: ” Kalau sekarang sunatnya pake cara yang macem2 kan Bu?”
I: ” He em” jawabku sambil menahan ngantuk…maklum udah mendekati jam 21.00. Entah sudah berapa kali aku menguap.
A: “Ada yang pake laser, ada yang pake cincin juga kan Bu…”
Anakku masih sibuk mengingat-ngingat metode sunat yang pernah didengarnya
A: “Bu, kalau sunatnya udah gede banget, jadinya lebih keras ya Bu…katanya jadi lebih susah”
Aku diam saja, tidak menyahut.
A: “Tapi kalau sekarang, kakak belum berani Bu….nanti aja nunggu kalau kakak siap ya Bu..”
aku mengangguk…
I: ” Tapi jangan kelamaan Kak, nanti keburu suara kakak berubah”
A: ” Iya, ya..kalau suara kakak udah berubah berarti kakak udah baligh ya Bu.”
Aku menangangguk lagi.
A: ” Kalau baligh kata Pak Guru tanda2nya kalau anak perempuan dapet haid, kalau laki2 kayak kakak dapet mimpi basah. Mimpi basah itu apaan sih Bu?”
Gubrak!!!!
Aku nyengir….. auo…..pertanyaan dewasa nih….gimana menjelaskannya? akukan bukan laki2 , gak ngalamin sendiri apa itu mimpi basah. Tapi kan..ini kewajiban orang tua untuk menjelaskan….daripada dia dapat jawaban salah dari orang lain 😦 …..*mikir mode on*….. *ngantuk menguap entah kemana* tapi jawaban belum keluar juga. Pikir, pikir..ayo pikir….kalau menjelaskan masalah haid aku sudah pernah, menjelaskan masalah melahirkan juga sudah, dan semuanya lancar2 saja karena memang aku langsung mengalaminya ditambah lagi anakku ini sudah pernah menyaksikan bagaimana ibunya berdarah2 saat melahirkan sang adik dan bantuan tantenya yang dosen kebidanan dengan membawakan VCD proses kelahiran (padahal sih VCD itu dibawa untuk dipelajari oleh mahasiswa si tante 😦 , tapi berhubung waktu nyetel ketahuan anakku sekalian saja sama tante dijelasin sambil nonton). Dan yang kusyukuri anakku itu g sampe trauma.
I: “Errr..kak, ibu pikir sebaiknya kakak nanya langsung aja sama ayah” *aku nyerah..hiks* lalu kulanjutkan memberi alasan ” Kalau ayah kan laki2, sama kayak kakak, jadi pasti lebih enak njelasinnya”
A: “Tapi kan ayah belum pulang Bu”
I: “Ya nantilah nunggu kalau ayah sudah pulang”
Kuperhatikan anakku itu seperti memendam ketidakpuasan, tapi biarlah…kupikir memang sebaiknya ayahnya saja yang menjelaskan jadi kalau nantinya ada pertanyaan lanjutan aku g gelagapan menjawab.

**************************

Hhhhh….ternyata jadi orang tua itu memang harus banyak belajar ya…terutama belajar menjelaskan segala sesuatu yang ingin diketahui sang buah hati tanpa membuat si anak menjadi tambah bingung or jadi ketakutan or jadi terlalu penasaran (hingga mencoba hal yang seharusnya belum layak dia lakukan).

Adakah yang mau sharing ?

Aku ingin menulis…..

Aku ingin menulis…
Tapi terlalu banyak yang ingin kutulis
hingga kutak tahu mana yang akan kutulis

Aku ingin menulis…
Tentang segala yang kurasa
Tentang segala yang kulihat
Tentang segala yang kudengar

Aku ingin menulis….
Beribu kata yang berlompatan di kepalaku
Beribu kalimat yang seolah berlomba saling mendahului
mencuat-cuat
menjurai-jurai
hingga kubingung merangkainya menjadi jalinan paragrap yang saling menaut

Sungguh….
Aku ingin menulis…..

update, 2010, hari-hari yang terlewatkan

Hmmmmm..sudah lama ya gak update rumah maya ini…begitu banyak yang telah terlewat yang tak sempat kutuangkan dalam tulisan. Hingga memasuki tahun 2010, tahun baru, tahun dimana segala asa kembali disambungkan untuk diusahakan tercapai setelah ditahun sebelumnya belum dapat terselesaikan.
Ngomong2 tentang hari yang terlewatkan yang belum sempat kutuliskan, ada satu peristiwa yang hingga saat ini masih aku jalani, dan begitu ingin aku tuliskan. Meski bukan berita gembira tapi siapa tahu bisa bermanfaat untuk mereka yang mungkin tersasar ke rumah maya-ku ini.
Well…sudah sejak sebelum puasa tahun kemarin (2009) aku mengalami nyeri leher, pundak dan menjalar sampai ke lengan kanan hingga aku tak bebas lagi beraktifitas. Dan jika nyeri itu begitu hebat maka akan membuat kepalaku terasa ditarik-tarik, sakit tak karuan. Gejala awalnya sih cuma nyeri di leher kanan (tengeng-jawa red) dan sudah ku konsultasikan ke dokter kantor, oleh beliau aku diberi gel untuk penghilang nyeri, namun meski telah kuoleskan berkali2 nyeri itu tak hilang juga bahkan makin parah hingga untuk sekedar ngetik pun aku tak sanggup berlama-lama (padahal kerjaan utamaku ya..berhubungan dengan entry data 😦 )
Akhirnya merasa gak kuat lagi aku mengunjungi dokter neurologi (ahli syaraf), diagnosa pertama..kekakuan otot..well..mungkin juga…dan aku diberikan beberapa jenis obat untuk kuminum. Setelah beerapa kali minum obat, nyeri itu sedikit berkurang namun hingga habis obat kuminum rasa nyeri itu masih ada.
Aku pun kembali ke dokter…kunjungan kedua ini aku ‘dihadiahi’ tiga suntikan di pundak kanan dan beberapa obat dan jika belum hilang juga disarankan untuk MRI, Alhamdulillah untuk beberapa hari nyeri itu hilang..tapiiiiiiiiiiiiiiiii….begitu obat habis belum hilang juga nyeri itu…kembali aku ke dokter dengan persiapan metal (dan pengetahuan tentang MRI yg kuperoleh dari mbah google) bahwa aku akan di MRI, dan kebetulan dokter yang dulu menanganiku di RS itu adalah dokter konsulen dan hanya pasien baru yg akan ditangani dokter konsulen…hmmmmmm…ya….baiklah…toh kupikir semua dokter itu sama..jadilah aku ditangani dokter lain dan diluar dugaan dokter ini tidak merekomendasikan utk MRI tapi CT scan…oh my God! Kok jadi CT-scan?
Ya sudahlah..kuterima surat pengantar CT-Scan, tp tidak segera kulaksanakan..kenapa? karna aku lebih memilih MRI yang meskipun harganya mahal tp lumayan aman dibandingkan CT-Scan yang menggunakan sinar-X dan hasilnya pun jauh lebih akurat MRI. Maka dengan nyeri yang harus kutahankan serta kegamangan hati, aku bertanya kesana-kemari tentang sakit yang kualami serta kemungkinan pengobatan lain. Kembali mbah google menjadi tumpuan harapanku…dari beberapa blog kutemukan bahwa penyakit ini bisa disembuhkan dengan fisioterapi namun tak ada klinik fisioterapi yang menerima pasien tanpa rekomendasi dokter! ow..ow…
Tapi aku tak mau berputus asa..selama berhari2 kutelusuri layar komputer untuk mendapatkan klinik fisioterapi yang menerima pasien tanpa rekomendasi dokter..dan Alhamdulillah akhirnya kutemukan juga, sebuah klinik di daerah Joglo Jakarta barat mau menerima pasien tanpa surat dokter. Setelah berkonsultasi dengan terapisnya (Bpk Yudi) melalui blog beliau, aku sepakat untuk datang. Yang jadi kendala adalah..jaraknya yang lumayan jauh dari kantor maupun dari tempat tinggalku serta tidak adanya terapis perempuan yang berarti aku harus mengajak suamiku, well…..ngerasa sungkan juga sih..apalagi suamiku sempat pesimis kalo terapi ini bakal berhasil…tapi kupaksakan beliau untuk mengantarku sekali saja pada kunjungan pertama di bulan November 2009.
Disana aku menerima tindakan penarikan leher (aku gak tau apa namanya), pemanasan bahu dengan lampu sinar merah, pemijatan dengan alat yang seperti besi bulat yang terasa hangat dan pemijatan manual (dengan tangan), selanjutnya bagian lenganku diterapi dengan sengatan listrik selama beberapa menit dan terakhir pemijatan manual lagi. Subhanallah….selesai terapi kepalaku terasa ringan, nyeri dileher menghilang dan nyeri dilengan berkurang jauh. Aku mengulangi terapi ini sebanyak 3 kali dan benar2 jauuuuuuuh berkurang nyeri itu hingga tinggal nyeri di bahu yang kadang2 masih timbul. Sebenarnya aku masih diharapkan untuk datang sekali lagi..tp terhambat adanya demo pada hari buruh nasional, besoknya terhambat lagi karena suamiku harus tugas keluar kota (selama tiga kali terapi suamiku bersedia mengantar), besoknya lagi terhambat karena aku harus menyelesaikan kerjaan yang mengalir bak air bah di bulan Desember hingga berlarut2 tak terlaksana terapi itu.
hmmmmmppppffffff………dengan rasa sedikit terpaksa kudatangi lagi RS untuk melaksanakan rekomendasi dokter neurologi untuk CT Scan..dan wow….ajaib begitu aku masuk ke ruang radiologi, petugas disana menyatakan bahwa sudah 5 hari alatnya rusak, kalau mau MRI cervical ada. Hmmm..mungkin memang nasibku harus MRI. Maka dengan rekomendasi terbaru dari dokter, aku mendaftar dalam daftar antrian pasien MRI dan mendapatkan jadwal MRI tanggal 20 Januari 2010.
Pengalaman MRI di tulisan berikutnya ya………. 🙂

Pameran Flona di Jakarta

Setiap tahunnya pameran Flona diadakan di Jakarta, dan seperti tahun2 sebelumnya pameran kali ini diselenggarakan mulai tanggal 17 Juli 2009 s.d 8 Agustus 2009.
Hari ini adalah kali ketiga aku mengunjungi Flona, selain karena aku memang suka dengan tanaman dan hewan (terutama Ikan Cupang), letak pameranpun tak jauh dari kantorku. Di Lapangan Banteng, jadi tinggal jalan kaki saja dari kantor. Hari pertama, tujuanku hanya mau lihat2 saja sambil mencari pot hias dari kaca untuk tempat cupangku di rumah, sebenarnya guna pot kaca ini adalah untuk bertanam dengan media jelly namun akhirnya malah kupakai untuk beternak cupang ;-P dan akhirnya tetep aja aaku membawa pulang sebatang kaktus berbentuk bunga berwarna merah keunguan seharga Rp5000,- lumayan murah untuk ukuran sebesar itu…hari kedua, aku membawa serta anak2ku dan keponakan serta adikku berkunjung ke Flona…wah senang sekali mereka, selain mencicipi (dan tentu pula akhirnya beli se-cup cocktail lidah buaya) segelas kecil cocktail lidah buaya yang rasanya asam manis, kamipun berkeliling melihat2 binatang2 yang lucu2. Ada ular yang bisa dipegang, ada keong yang ‘rumahnya’ di cat warna-warni, kura2 brazil yang masih imut, macam2 ikan, kelinci, anjing, kucing dan tentu saja bunga2 yang begitu subur dan indah. Dan pastinya aku pulang dengan membeli seekor ikan cupang hias warna hijau kebiruan seharga Rp15000.. (mahal juga sih..tp lumayan murah juga jika dibandingkan harus pergi ke jalan Kartini), misiku mencari pot hias dari kaca belum tercapai 😦
Hari ketiga inipun, tujuan utamaku adalah hunting pot kaca, namun lagi tak kutemukan kios yang menjual pot seperti yang kuinginkan. Kurasa, untuk flona kali ini tidaklah selengkap flona tahun kemarin…dimana bermacam2 bentuk pot dan media tanam dari jelly banyak dijual. Hah..sedih deh…padahal beberapa waktu yang lalu di Matahari Atrium ada pot kaca yang didiskon hingga 60% tidak kuambil gara2 menunggu pelaksanaan flona…berharap kios yang dulu ikut berpartisipasi lagi….ya..sudahlah…mungkin belum waktunya. Dan akhirnya yang kudapatkan malah alat penyemprot tanaman yang dari dulu diinginkan suamiku dan memang kuakui harganya benar2 murah, untuk ukuran 3 liter hanya dihargai Rp28000 padahal kalo di toko harganya mencapai Rp50000 lebih 🙂 Selain itu, aku juga membeli makanan ikan. yah..lumayan buat sedikit menghilangkan kekecewaan karena tidak mendapatkan pot kaca yang kuinginkan…..