Saat anakku bertanya “sunat itu sakit g, bu?”

Yup…begitulah pertanyaan anak sulungku yang saat ini sudah menginjak usia 9 tahun. Percakapan yang terjadi pada pukul 20.00 saat aku sedang melepas lelah setelah mandi dan makan malam sedang suamiku belum pulang.
Awalnya anakku itu bercerita tentang teman2 nya yang sebagian sudah dikhitan (sunat) lalu lama2 nyerempet ke dirinya sendiri yang kebetulan belum berkhitan.
Begini dialog lengkapnya * mohon maaf jika ada kata2 yang agak kurang pantas untuk ditulis :) *
Anakku (A) :”Bu, kakak kan sekarang udah 9 taun ya…berarti sebentar lagi kakak harus sunat dong…”
Aku (I): ” Ya iyalah…kan udah gede”
A :” Kalau sunat itu sakit g sih,Bu?”
Aku diam sejenak, mikir, kalau kubilang sakit nanti dia g berani di khitan karena kebetulan anakku itu takut ngelihat darah dan kalau luka sedikit jejeritannya udah ampun-ampunan. Tapi kalau kubilang g sakit berarti bohong padahal selama ini apapun selalu kusampaikan dengan jujur kepadanya…*menimbang2 mode on*
I : ” Ya..sebenarnya sakit juga sih Kak, tapi kan udah dibius dulu jadi g bakal kerasa”
A : “Dibius dulu ya Bu?”
Aku mengangguk
A: “Tapi kan kalau dibius berarti sakit juga..kan disuntik dulu”
I: ” Iya, sakit sedikit seperti digigit semut”
Dia diam sejenak..seperti sedang membayangkan sakitnya disuntik or mungkin membayangkan sakitnya digigit semut…..
A: ” Yang disuntik yang mananya, Bu? tititnya?”
Aku gelagapan sejenak…bingung mau jawab apa, karena selama ini aku juga belum pernah menyaksikan secara langsung proses khitan hanya mendengar ceritanya saja. Sambil sedikit mengernyit dan ragu sedikit aku mencoba menjawab
I: “Bukan, bukan pas di tititnya Kak, tapi dibagian atas titit” (bener g sih? :( )
A: ” Di atas sini Bu?” (sambil menunjuk)
Aku mengangguk sok tahu…
A: ” Hi…..tetep aja sakit Bu”
I: “Iya, tapi kan sebentar doang, habis itu kan jadi baal, baru disunat”
(Kebetulan anakku termasuk yang hobi baca, jadi untuk beberapa kata dia sudah mengerti tanpa harus dijelaskan, seperti kata baal diatas)
Kulirik anakku, dia sedang sibuk membolak-balik buku yang sedari tadi dipegangnya. Kupikir tak akan ada lagi pertanyaan, tapi ternyata…..
A: “Bu, kata ayah, kalau orang dulu sunatnya pake golok ya….”
Aku tersenyum, teringat suamiku yang suka bercanda dengan menakut2i anakku
I: ” Iya mungkin”
A: ” Trus g pake dibius ya Bu…hi….” Kulihat mimik wajahnya yang meringis seakan merasakan sakitnya….
I: ” Dulu banget, kan dulu belum ada obat bius. Tapi pasti adalah kak cara untuk menghilangkan sakit waktu sunat. Ibu pernah baca ada satu tradisi dimana sebelum disunat si anak disuruh berendam dulu dalam air dingin selama beberapa lama, nah..kalau anak itu sudah merasa kedinginan baru disunat”
A: “O..kakak tau, karena kedinginan kan jadinya saraf2 perasanya jadi diam ya Bu, jadi g bisa ngerasa sakit lagi. Itukan kayak waktu ke dokter gigi, sebelum dicabut giginya dikompres dulu pake alkohol jadinya dingiiiiin banget…hehe…”
Aku mangut-manggut.
A: ” Kalau sekarang sunatnya pake cara yang macem2 kan Bu?”
I: ” He em” jawabku sambil menahan ngantuk…maklum udah mendekati jam 21.00. Entah sudah berapa kali aku menguap.
A: “Ada yang pake laser, ada yang pake cincin juga kan Bu…”
Anakku masih sibuk mengingat-ngingat metode sunat yang pernah didengarnya
A: “Bu, kalau sunatnya udah gede banget, jadinya lebih keras ya Bu…katanya jadi lebih susah”
Aku diam saja, tidak menyahut.
A: “Tapi kalau sekarang, kakak belum berani Bu….nanti aja nunggu kalau kakak siap ya Bu..”
aku mengangguk…
I: ” Tapi jangan kelamaan Kak, nanti keburu suara kakak berubah”
A: ” Iya, ya..kalau suara kakak udah berubah berarti kakak udah baligh ya Bu.”
Aku menangangguk lagi.
A: ” Kalau baligh kata Pak Guru tanda2nya kalau anak perempuan dapet haid, kalau laki2 kayak kakak dapet mimpi basah. Mimpi basah itu apaan sih Bu?”
Gubrak!!!!
Aku nyengir….. auo…..pertanyaan dewasa nih….gimana menjelaskannya? akukan bukan laki2 , gak ngalamin sendiri apa itu mimpi basah. Tapi kan..ini kewajiban orang tua untuk menjelaskan….daripada dia dapat jawaban salah dari orang lain :( …..*mikir mode on*….. *ngantuk menguap entah kemana* tapi jawaban belum keluar juga. Pikir, pikir..ayo pikir….kalau menjelaskan masalah haid aku sudah pernah, menjelaskan masalah melahirkan juga sudah, dan semuanya lancar2 saja karena memang aku langsung mengalaminya ditambah lagi anakku ini sudah pernah menyaksikan bagaimana ibunya berdarah2 saat melahirkan sang adik dan bantuan tantenya yang dosen kebidanan dengan membawakan VCD proses kelahiran (padahal sih VCD itu dibawa untuk dipelajari oleh mahasiswa si tante :( , tapi berhubung waktu nyetel ketahuan anakku sekalian saja sama tante dijelasin sambil nonton). Dan yang kusyukuri anakku itu g sampe trauma.
I: “Errr..kak, ibu pikir sebaiknya kakak nanya langsung aja sama ayah” *aku nyerah..hiks* lalu kulanjutkan memberi alasan ” Kalau ayah kan laki2, sama kayak kakak, jadi pasti lebih enak njelasinnya”
A: “Tapi kan ayah belum pulang Bu”
I: “Ya nantilah nunggu kalau ayah sudah pulang”
Kuperhatikan anakku itu seperti memendam ketidakpuasan, tapi biarlah…kupikir memang sebaiknya ayahnya saja yang menjelaskan jadi kalau nantinya ada pertanyaan lanjutan aku g gelagapan menjawab.

**************************

Hhhhh….ternyata jadi orang tua itu memang harus banyak belajar ya…terutama belajar menjelaskan segala sesuatu yang ingin diketahui sang buah hati tanpa membuat si anak menjadi tambah bingung or jadi ketakutan or jadi terlalu penasaran (hingga mencoba hal yang seharusnya belum layak dia lakukan).

Adakah yang mau sharing ?

One thought on “Saat anakku bertanya “sunat itu sakit g, bu?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s