Lanjutan, Pengalaman MRI III

(hopefully, that, this will be the last episode of this story…😉 )

Setelah menerima rekomendasi dari Dokter Neurolog, dan karena hari itu sudah siang, aku baru bisa bertemu dengan Dokter spesialis rehab medik pada keesokan harinya. (tentang administrasi yang bertele-tele di loket pendaftaran pasien g usah diceritakan ya….)
Singkat cerita, Sang Dokter segera melihat catatan hasil pemeriksaan dari Dokter Neurolog sekaligus melihat hasil MRI, kembali yang kudapat berita gembira bahwa tak ada yang mengkhawatirkan dengan leher dan bahuku. Namun, untuk mempercepat pemulihan beliau merekomendasikan untuk fisioterapy. Segera aku keluar dari ruang dokter dan mendaftar untuk antri fisioterapi. Biaya pendaftaran sebesar Rp10.000 (biaya terapi ditanggung ASKES🙂 ) yang bisa langsung dibayar dimuka untuk 5 kali terapi (paket I dari ASKES memang 5 kali, setelah 5X maka akan direview apakah masih perlu dilanjutkan atau tidak). Dan karena aku berpikir praktisnya saja dengan disertai pertimbangan lamanya waktu ngantri untuk pendaftaran kuputuskan untuk langsung bayar dimuka 5X biaya pendaftaran.
Setelah itu aku langsung menuju ke klinik fisioterapi yang ada di RS tersebut, dan sesuai dengan harapan, aku bisa mendapatkan terapis perempuan. Awalnya aku berharap bahwa fisioterapi yang kuterima sama dengan yang kuterima waktu aku fisioterapi di Joglo karena berdasarkan surat dari Dokter Spesialis Rehab Medik tindakan terapi yang akan aku terima meliputi terapi dengan menggunakan lampu sinar merah untuk menghangatkan daerah yang diterapi, US (pemijatan dengan alat ultrasonografi berbentuk seperti ulegan-terapis di RS itu sering menyebutnya dengan sebutan uleg-uleg..hihihi…karena memang bentuk alatnya seperti ulegan bumbu cuma beda materialnya dan terasa hangat karena tersambung dengan listrik), kemudian sengatan listrik (jangan mbayangin sengatan dengan watt yang tinggi ya…hehehe…) dan massage.
Tapi ternyata yang kuterima cuma 2 tindakan, terapi dengan sinar merah dan sengatan listrik o_o , yang bikin sebal lagi, terapisnya menuliskan keempat tindakan terapi yang tertulis dalam resep dokter ke dalam kuitansi yang nantinya akan diajukan ke PT ASKES untuk dimintakan penggantian biaya! Masya Allah!!! (cuma sayangnya hal itu baru kuketahui setelah keluar dari ruangan terapi dan untuk masuk lagi harus ngantri lagi..uurrrggggghhh!!! sebalnya!) dan selesai terapi itu sama sekali ga ada pengurangan rasa sakit seperti halnya yang kurasakan setelah terapi di Joglo dulu. Sama sekali ga ada enak2nya. Akhirnya aku bertekat bahwa besok aku harus menemui dokter rehab mediknya untuk mempertanyakan hal itu, maksudku sih ingin supaya sang dokter yang ngomong langsung ke terapisnya gitu…..😦

Esok harinya aku kembali ke RS tersebut, dan langsung ke loket pendaftaran pasien, saya bilang ke petugas loket bahwa saya ingin bertemu dengan dokter tapi petugas itu mengatakan bahwa aku tidak boleh ketemu dokter lagi sebelum selesai 5X terapi. ealah…..akhirnya dengan sedikit merayu kubilang bahwa aku perlu konsultasi lagi karena ada yang belum tersampaikan kemarin, dan alhamdulillah petugas tersebut membolehkan dengan ancaman bahwa hal itu tidak boleh diulang lagi! alasannya ASKES ga mau menanggung biaya dokter berulang-ulang (kalau yang ini aku ga tau bener apa ga). Di ruang dokter segera kusampaikan unek-unek tentang kejadian terapi kemarin, tapiiiiiiiiiiiiiii……yang kuterima bukannya pemecahan masalah sebaliknya dokter tersebut dengan arogan langsung teriak memanggil perawat yang biasanya manggilin antrian pasien dan bilang kalo permasalahanku itu bukan dia yang nanganin, dan diluar ruangan dokter perawat tersebut dengan nada galak bin ketus bilang “Bu, kalo ada masalah itu jangan bilang ke dokternya, ke petugas loket saja” lha..kupikir kalo ke petugas loket ya sama aja boong, mana mungkin ada tanggapan kan mereka tugasnya cuman mendaftar pasien2 yang mau ketemu dokter or terapi!
Sebalku bertambah-tambah, tapi berhubung aku udah bayar 5X pertemuan kuteruskan terapi sampai 3X dengan harapan ada perubahan meski perlahan..tapi hingga 3X terapi sama sekali tidak ada perubahan bahkan sakit yang kurasa semakin bertambah-tambah sedangkan untuk minum obat dari dokter aku udah ga sanggup lagi, karena pernah sekali kuminum obat2an itu efek yang kurasakan adalah perut kembung, mata ngantuk tapi kepala terasa pusing luar biasa hingga tidak bisa tidur dan muntah2 g karuan seperti orang yang lagi hamil muda!
Pernah dalam satu kali pertemuan terapi aku ketemu dengan seorang ibu yang sudah tua, kutanya sudah berapa kali terapi katanya sudah 15X tapi jempolnya masih ngilu (kebetulan ibu tersebut sakit di jempol) hmmmm…
akhirnya kuputuskan untuk quit, berhenti terapi di RS tersebut selain karena pelayanannya yang tidak sesuai juga karena waktuku yang selalu habis untuk menunggu di RS tersebut, padahal untuk kesana aku harus mengambil jam kantor (biasanya aku datang ke RS jam 07.00 WIB, baru mendapat giliran pada pkl 10.00 WIB dan selesai pada pkl 11.30 WIB…jangan disangka dari pkl 10.00 ke 11.30 itu aku menjalani terapi terus2-an, tapi ada jeda waktu yang lumayan lama untuk beralih dari satu tindakan ke tindakan berikutnya) 😦 dan untuk itu aku harus kembali menemui dokter rehab medik.
Keesokan harinya, karena ingin semuanya cepat, aku tak lagi menggunakan askes tapi lewat jalur pasien biasa dengan resiko semua biaya ditanggung sendiri, tapiiiiiiiiiiiii…itupun tidak semulus dugaanku! aku masih harus pontang-panting mencari berkasku sendiri karena alasan petugas di loket pendaftaran pasien biasa berkas rekam medik (RM)-ku berada di ruangan ASKES. Okelah…aku bisa mengerti, maka aku langsung ke loket pendaftaran ASKES untuk meminta berkas RM-ku dan setelah tanya kesana kemari ruangan mana dan siapa yang harus kutemui kepada sekian banyak petugas berseragam di sekitar lokasi itu (kesan yang kudapat..petugas2 di RS ini betul2 cuek bebek dengan para pasien) akupun menemui petugas di ruangan arsip RM ASKES yang sedang santai , tapiiiiiiiiiiiiiiiiiii…sekali lagi tapiiiiiiiiiiiiii…apa jawaban petugas arsip tersebut?………
” Nanti saja mbak, kucarikan, sekarang lagi sarapan…lagian aku masih capek habis dapet piket malam kemarin”
what???? ini sudah jam 09.00 Bu…kalau mau sarapan kenapa ga dari tadi? inikan instansi pelayan publik yang udah buka dari jam 07.00 tadi dan bahkan bisa dibilang 24 jam untuk klinik2 tertentu? lagian kalau dirimu sudah piket semalam kan ada petugas pengganti dirimu, kemanakah dia???? batinku meluap-luap, sabar…sabar….kuambil nafas dalam2 dan masih sambil berhusnudzon serta mencoba berempati dengan keadaan petugas tersebut aku bilang..
“O…maaf ya Bu, tapi boleh tidak saya bantu mencarinya? atau mungkin ada petugas lain Bu?”
“Kalau mau tumpuk disitu saja kartunya…” jawabnya cuek.
Allah…………ya sudah, daripada terus2n ngotot aku mengalah.
” Ya, sudah Bu, saya tunggu di instalasi Rehab Medik ya..tolong segera Bu, karena dokter sudah mulai memeriksa pasien sejak jam 08.00 tadi, takutnya dokternya keburu pergi karena hari ini saya lihat pasien tidak begitu banyak. Makasih ya Bu” kataku sambil pergi menuju instalasi Rehab Medik.
Tunggu..dan kutunggu…hingga pasien terakhir aku belum juga dipanggil, aku tanya ke petugas di loket pendaftaran rehab medik katanya berkas belum datang padahal sudah pkl 11.00 dan dokter akan segera mengakhiri prakteknya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk negosiasi dengan petugas tersebut, kubilang keperluanku ke dokter adalah untuk minta surat pindah terapi, dan aku sudah mendaftar sebagai pasien biasa serta kutunjukkan bukti kunjungan terakhir fisioterapi-ku, dan berhubung dokter akan pergi maka petugas tersebut minta agar dokter mau menemuiku. Dan alhamdulillah beliau bersedia.
Setelah mendapat surat pindah terapi dari Dokter, karena penasaran aku balik ke ruang arsip RM ASKES sambil bermaksud mengambil kartu RS yang tadi kutinggalkan , ibu petugas yang tadi sudah ga ada dan diganti oleh ibu yang lain. Kucari ibu petugas tersebut dan ketemu…tapi…kembali harus bersabar….
” Bu…saya mau nanya….” belum selesai kalimatku ibu itu berkata ” nanti dulu…” sambil berlari dengan menenteng sebungkus nasi dan segelas air aqua. Kutunggu di depan pintu ruangan, ketika beliau melintas hendak memasuki ruangan aku berkata lagi ” Bu..saya…”
” Sebentar dulu kenapa sih…nggak sabar amat, saya mau minum dulu” katanya sambil berlalu, karena sudah tak sabar lagi dan karena waktu sudah sangat siang serta aku harus segera kembali ke kantor kukejar beliau masuk ke dalam ruangan dan sambil menahan intonasi suara aku berseru….” Bu.. dokter sudah pergi, dan saya cuma mau bilang kalau saya tidak memerlukan berkas RM lagi, dan saya mau mengambil kartu berobat saya”
” Oh..dokternya sudah pergi? wah padahal baru mau kuantar berkasnya tadi”.
Kulihat di atas meja, berkas RM-dan kartuku tergeletak sendirian didalam keranjang……..segera kuambil kartuku dan berlalu dari ruangan itu sambil membatin…….”memang Ibu ga tau ini sudah jam berapa?”
(Alhamdulillah, berdasarkan surat pindah terapi tersebut, aku bisa terapi di sebuah RS swasta di dekat rumah dengan seorang terapis perempuan. Awalnya seminggu 4X, kemudian seminggu 2X, seminggu 1X, 2minggu sekali dan sekarang pada saat terasa sakit saja sebagai upaya pencegahan terulangnya keluhan yang berat. Rasa sakit dibahu dan leher kadang2 masih timbul kalau terlalu capek namun sudah tak terlalu mengganggu dan dapat diatasi dengan stretching dan mengubah posisi duduk. Moga2 suatu saat nanti leher dan bahuku benar2 pulih dan normal seperti sedia kala🙂 dan mudah2an kisahku ini bermanfaat untuk teman2 yang lain, aamiin).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s