Si Jali-Jali

Entah sudah berapa kali aku mendengar lantunan musik Si Jali-Jali di perempatan Senen saat lampu merah menyala. Dan biasanya lagu itu gak terlalu berpengaruh pada saat aku menunggu lampu hijau menyala. Namun pagi ini, alunan musik itu terasa begitu mendayu-dayu membelai gendang telinga. Terasa nyaman, menenangkan pikiran yang- aku yakin dialami semua orang yang bekerja di Jakarta- terasa diburu-buru waktu di setiap hari Senin. Dulunya sih, waktu pertama kali musik ini diperdengarkan di perempatan Senen, kupikir itu nada dering dari HP salah satu teman se-bis. Tapi lama-lama aku jadi sadar bahwa itu bukan nada dering karena setiap berhenti di perempatan Senen dan bertepatan dengan nyala lampu merah, selalu terdengar si Jali-Jali mengalun ceria. πŸ™‚

Salut buat Pemprov DKI Jakarta yang punya ide brilian memperdengarkan musik di Perempatan Senen yang selalu sibuk (mungkin juga di perempatan lain). Cuma sayang kenapa cuma pagi hari aja ya?? tapi aku yakin, pasti ada alasan tertentu yang mendasari pemutaran musik dilakukan hanya saat pagi hari saja.

Hidup si Jali-Jali, hidup musik Indonesia. (Jadi semangat gini πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s