Memiliki dan tidak memiliki waktu

Pergerakan kehidupan di Jakarta (dan mungkin kota2 besar lain di dunia) membuat para penghuninya seperti tidak memiliki waktu. Hanya sedikit diantara manusia-manusia metropolitan bisa menguasai waktu. Bisa dikatakan hampir 100% mereka TIDAK MEMILIKI WAKTU. kehidupan manusia metropolitan. Mulai dari tidur hingga bangun semuanya teratur mengikuti kemauan Sang Waktu. Jika seseorang harus masuk kerja pada pukul 07.30 WIB maka dia harus bangun dari tidurnya setidaknya pukul 05.00 WIB, mandi kemudian mempersiapkan segala perlengkapan yang harus dibawa entah itu bekal makanan yang kemungkinan besar baru bisa dinikmati di perjalanan atau bahkan setibanya di tempat kerja, menyalakan kendaraan agar mesin cukup panas untuk bisa melaju ditengah kemacetan yang sudah pasti menghadang atau mungkin mempercepat waktu bersiap-siap jika harus naik kendaraan umum dan menyiapkan mental untuk berdesak-desakan di dalam kendaraan umum.

Setiba di tempat kerja, kembali kita harus diburu-buru waktu agar tidak terlambat absen (ini berlaku untuk mereka yang tempat kerjanya telah menggunkan mesin absen) jika tidak ingin terpotong penghasilan gara-gara terlambat beberapa detik. Hal yang lumrah jika setiap pagi kita melihat pelataran perkantoran dipenuhi orang-orang yang berlarian  ‘mengejar’  Sang Waktu.

Setelah urusan absen beres kembali kita harus mengejar Sang Waktu dengan membuka semua berkas-berkas kerja yang harus segera diselesaikan. Memilah mana yang bisa dibelakangkan, mana yang bisa di- nanti-kan dan mana yang harus disegerakan pengerjaannya sambil menyuapkan sesendok  demi sesendok makanan ke dalam mulut karena Sang Waktu telah mengultimatum dengan segala ancaman jika pekerjaan tersebut tidak terselesaikan tepat waktu. Bahkan mungkin jika Sang Waktu telah mulai ‘menghardik’ tak ada lagi kesempatan untuk acara suap-menyuap.  Itulah kehebatan Sang Waktu, dia bisa mengancam dengan berbagai cara mulai dari kehilangan pelanggan, kehilangan kepercayaan, kehilangan penghasilan, kehilangan jabatan, kehilangan uang, denda, dan bahkan mungkin kehilangan akal sehat dan yang terparah kehilangan kehidupan.

Kembali kita ke ritme kehidupan manusia metropolitan. Jika jam kerja  telah usai, sebagian mungkin masih harus tertahan ditempat kerjanya  karena pelitnya Sang Waktu memberi masa sementara pekerjaan yang harusnya terselesaikan belum  juga  beres karena berbagai alasan.  Sementara bagi mereka yang bisa pulang,  kembali harus mempersiapkan segenap mental untuk menghadapi kemacetan yang menghadang, kepadatan angkutan umum yang selalu setia menyapa, menata dan menjaga emosi agar tak terpancing karena berseliwerannya penjual asongan ditengah jalan dan kesemrawutan jalanan karena penyeberang jalan yang juga tidak sabar menunggu, karena juga dikejar-kejar oleh Sang Waktu.

Setiba di rumah , setelah berjam-jam ditengah kemacetan jalanan, setelah segala kepenatan menguasai tubuh dan pikiran dan keinginan beristirahat begitu mendera akankah Sang Waktu rela melepas kita? hmmm…TENTU SAJA TIDAK! bagi mereka yang masih lajang mungkin masih bisa berleha-leha sejenak, bisa mengurai ‘waktu’ yang ‘membelit’  ketat agar  melonggar sedikit dengan entah itu mendengarkan musik, nonton TV atau kegiatan lain yang membelai jiwa sebelum kembali mempersiapkan segala yang  memang harus dipersiapkan. Tapi bagi mereka yang telah berkeluarga…….kembali mental harus dipersiapkan untuk menampung segala keluh kesah pasangan, rengekan dan aduan anak-anak,  dan masalah-masalah lainnya.  Beban ini akan semakin berat dirasakan oleh seorang perempuan yang berlaku sebagai pekerja sekaligus Ibu rumah tangga.  Coba diingat, kemana seorang anak akan menumpahkan segala rengekan dan aduannya ketika kedua orangtuanya pulang dari bekerja? kepada ibunya yang pertama kemudian baru beralih kepada ayahnya. Kemana seorang pembantu menyampaikan bahwa hari ini beras habis, gas menipis, persediaan bahan makanan di lemari es tinggal untuk esok saja,  telpon dari desa yang menyuruhnya pulang karena orangtuanya sakit,  sabun cuci piring sabun cuci baju sabun mandi odol telah habis, air galon tinggal seperempat dsb, dsb, dsb…….kepada Ibu!. Kembali Sang Waktu menampakkan kekuasaannya. Tak ada sedikitpun masa diberikannya untuk sekedar melepas kepenatan dan kelelahan hingga nanti waktu tidur yang mungkin hanya tinggal sedikit saja hingga Sang Waktu kembali menentukan kapan kita harus bangun dan memulai kehidupan. Benarkah itu???? ho..ho..ho…. tentu tidak bagi sang Ibu. Meski gelap telah menyelimuti bumi, meski Sang Waktu telah berbaik hati memberikan sedikit masa  untuk bisa berisitirahat memejamkan mata sejenak untuk mengusir penat, hal itu tidak berlaku sepenuhnya untuk sang Ibu.  Ditengah waktu istirahatnya , Ibu masih harus terbangun untuk menyusui anaknya yang masih membutuhkan atau sibuk membuatkan susu bagi para ibu yang sudah tidak menyusui, memikirkan makanan apa yang harus tersedia besok untuk para buah hatinya, dan jika ada yang sakit diantara anak-anaknya Ibu pula yang bersedia berjaga demi kesembuhan anaknya, mengompres, membelai, menghibur, menggendong dengan segala kantuk yang menggelayut manja dipelupuk mata hingga terkadang sang kantuk ‘tahu diri’ dan melenyapkan serta membaurkan dirinya dengan segala kesedihan dan pengharapan sang Ibu akan  kesembuhan anaknya. Dan ketika fajar telah menyingsing dan Sang Waktu kembali mengejar para penghuni metropolitan untuk segera memulai kehidupan termasuk sang Ibu yang juga dikejar-kejar waktu untuk mengambil keputusan apakah ia akan pergi bekerja ataukah tidak karena anaknya yang sakit masih membutuhkannya atau karena rengekan si kecil yang tidak rela ditinggal kerja olehnya. Sementara ketika sang Ibu hendak berbagi rasa dengan menumpahkan segala kesedihan, kebingungan, pengharapan disertai sedikit omelan dan gerutuan kepada sang Ayah yang didapatnya hanyalah kata-kata pedas yang  semakin menambah beban hatinya. Lalu kepada siapakah sang Ibu mesti mengadu dan berkeluh kesah?  Kepada Sang Waktu?  tak mungkin karena Sang Waktu pun telah meninggalkannya dengan segala bentuk ancaman.

Hanya mereka yang telah lepas dari segala rutinitas hidup yang bisa memiliki waktu. Hanya mereka yang anak-anaknya telah beranjak dewasa dan mandiri yang bisa menikmati waktu. Hanya mereka yang bisa MENGUASAI WAKTU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s