Akhirnya…..

Yup..tepat pukul 21.00 WIB tanggal 23 Mei 2008 di DepKeu (di gedung yang mana ya???) pemerintah akhirnya mengumumkan juga kenaikan harga BBM itu. Seperti yang sudah diduga oleh banyak kalangan bahwa kebijakan yang benar-benar tidak populer itu tetap akan diambil demi menyelamatkan APBN. Dan seperti yang sudah kutulis sebelumnya bahwa dampak kenaikan itu sudah langsung terasa keesokan paginya. Tarif angkot langsung dinaikkan secara sepihak oleh para sopir, harga sayur-mayur tak mau kalah juga ikutan naik, ikan? hmmm…apalagi. Lautan Indonesia yang konon katanya kaya akan bermacam-macam ikan tapi anehnya harganya benar2 bikin senewen ibu-ibu yang pingin memberikan sumber protein buat anak-anaknya. Mungkin karena harganya yang “Masya Allah” itulah yang membuat orang indonesia menempati peringkat bawah dalam hal konsumsi ikan.
Sebenarnya, kalau melihat alasan pemerintah yang ingin menyelamatkan APBN, kenapa (dari dulu) hanya pos subsidi BBM yang diutak-atik yaa??? padahal masih banyak pos-pos lain yang bisa dihemat penggunaannya dan yang tidak akan berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat kebanyakan. Kenapa bukan subsidi untuk perbankan yang diutak-atik? atau mungkin penghematan dalam hal belanja negara untuk departemen/lembaga seperti uang perjalanan dinas, uang rapat, uang honor yang gak jelas juntrungannya, belanja kendaraan bermotor or pos-pos lainnya.
Sedih rasanya melihat rakyat kecil yang berebut menerima BLT yang jumlahnya gak seberapa itu. Rakyat dibujuk layaknya seorang ibu yang membujuk anaknya yang sedang menangis meraung-raung dengan membelikan permen (seharga Rp 100 dapet 3). Ahhhh……….
Satu lagi hal yang bikin sebel…memang sampai saat ini BBM masih di subsidi oleh pemerintah, tapi sayangnya pemerintah tidak memilah siapa dan bagaimana orang yang selayaknya mendapat subsidi. Coba pikir…untuk orang-orang kaya dan para ekspatriat yang hidup di Indonesia, mereka juga beli BBM yang bersubsidi, padahal mereka tidak layak banget ‘makan’ subsidi.
Aku jadi setuju dengan pernyataan Andi Mallarangeng yang menyatakan bahwa sudah saatnya sistem subsidi itu diganti. dari men-subsidi barang menjadi men-subsidi orang. Mungkin itu yang paling tepat. Mungkin nanti BLT yang dibagikan kepada rakyat miskin tidak lagi senilai Rp 100 ribu/bulan tapi diganti dengan sekolah gratis, berobat gratis (tentu dengan kualitas yang prima dan bukannya asal-asalan seperti yang sering diterima oleh rakyat miskin sekarang ini). Kemudahan mendapatkan bantuan modal untuk usaha dan pertanian (dengan sistem bagi hasil dan bukannya sistem bunga yang memberatkan). Menggalakkan kembali perlunya mengolah sawah dan ladang sehingga diperoleh ketahanan pangan dan tentu saja mempermudah jalur penjualan hasil pertanian dengan membuka sentra pasar dimana petani bisa langsung bertemu dengan pembeli (mungkin semacam pasar lelang ikan) dan bukan melalui tengkulak ataupun ‘tikus’nya pemerintah.
Sebenarnya memang susah menentukan arah kebijakan, tapi anehnya kenapa banyak orang yang berhasrat menjadi pemimpin negeri ini yaaa???
Sebenarnya (lagi) nggak ada yang salah dengan keinginan untuk memimpin namun hendaknya dibarengi dengan keinginan untuk menyelamatkan bangsa ini (tidak cuma di saat-saat awal ketika tengah berusaha meraih kepemimpinan namun juga saat memimpin dan setelah lengser dari kepemimpinan)….sighhhhhhhhhh………………………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s