harga BBM naik ? Subsidi dihapus ??

Pokoknya kalau ngomongin masalah kenaikan BBM semua pasti ribut. nggak ibu Rumah Tangga, nggak mahasiswa pokoknya semua ribut. Demo dimana-mana hingga bikin macet jalanan. Ada yang pro dan ada yang kontra. Kalo buatku sih mau ada subsidi atau enggak sebenarnya gak masalah ASAL…kebijakan itu benar-benar bisa dirasakan sebagai suatu keadilan bagi semua lapisan masyarakat terutama untuk lapisan menengah ke bawah. Kenapa Menengah ke Bawah ??? karena sesungguhnya yang merasakan imbas langsung dari suatu kebijakan ya mereka-mereka itu. Alasannya ? karena perekonomian mereka ‘cekak‘ dan terkadang benar-benar ‘mepet’ luar biasa. Begitu pemerintah menaikkan harga BBM pastinya akan diikuti dengan :

1) kenaikan harga semua kebutuhan pokok, dan itu berarti mengurangi daya beli mereka (dan ironisnya terkadang mereka harus mengurangi jatah makan sehari-hari !),

2) kenaikan tarif angkutan umum dan itu berarti menambah beban ongkos yang harus dikeluarkan padahal untuk mendapatkan uang untuk ongkos itu mereka gak bisa tidak memang harus pergi kerja dengan naik angkutan umum (gak mungkin dong kalo rumah di Bogor sedangkan tempat kerja di Jakarta musti jalan kaki !),

3) kenaikan biaya pendidikan (gak bakalan bisa tercapai program wajib belajar 9 tahun-nya pemerintah ! yang ada malah makin banyak anak putus sekolah),

4) kenaikan tarif pelayanan kesehatan (akan makin banyak pasien yang terlunta-lunta di depan rumah sakit karena gak mampu bayar biaya berobat dan akan makin sering media memberitakan banyaknya RS yang menolak pasien miskin, ibu-ibu yang terpaksa melahirkan tanpa bantuan tenaga medis, anak-anak yang busung lapar, dsb, dsb),

5) dan yang pasti akan banyak mall yang tutup karena gak ada pembeli (wong uangnya gak ada !) ;-p

Dan kesemua alasan itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap golongan masyarakat menengah ke atas, kenapa? karena mereka masih memiliki saving yang cukup atau bahkan lebih untuk menutupi segala kenaikan biaya itu. Tentang subsidi BBM, ada banyak komen dari teman-teman mengenai siapa yang sebenarnya lebih banyak menikmatinya, dan kalo dianalisa sih sebenarnya ya..golongan menengah ke atas yang sebagai penikmat terbesar. Gimana tidak? coba lihat di jalanan ibu kota , hampir 80% yang melintas adalah mobpri dan yang banyak pake mobil pribadi siapa? mulai dari mobpri yang harganya ratusan juta sampai miliayaran rupiah, semuanya pake BBM bersubsidi. Harusnya untuk mobpri seperti itu gak usahlah BBM-nya dikasih subsidi wong mereka mampu kok beli mobilnya berartikan udah diperhitungkan pula kalo mereka bakalan mampu ngisi BBM-nya. Untuk mobpri seperti ini kasih aja BBM dengan harga pasar dunia, saya lebih setuju kalo BBM bersubsidi diberikan hanya untuk mobil-mobil yang memang diperuntukkan bagi umum (angkot, bis umum, kereta api kelas bisnis/ekonomi, pesawat terbang kelas bisnis/ekonomi, jemputan karyawan dsb.). Mungkin harus ada pembedaan tempat SPBU-nya, misalnya untuk mobil pelat kuning (yang mendapat subsidi) area X disediakan SPBU di daerah Y dan dilakukan pengawasan untuk menghindari penyelewengan BBM bersubsidi , sedangkan untuk mobpri ya terserah di mana aja karena tidak diperlukan pengawasan dan BBM dijual dengan harga pasar. Ya..itu sih…ide aja yang saya kumpulkan dari rekan-rekan. Kalaupun sampai subsidi dihapuskan, pemerintah harus bisa memberikan solusi bagi masyarakat lapisan menengah ke bawah. mungkin dengan jalan membebaskan biaya berobat, sekolah gratis, angkutan umum gratis, sehingga mereka gak perlu lagi pusing cari uang untuk keperluan2 itu, mereka cukup berusaha mencari uang untuk keperluan yang benar-benar pokok (sandang, pangan, papan). Oh..ya, tadi saya sempet baca berita di eramuslim.com tentang demo para TKI di Hongkong. mereka menolak kenaikan harga BBM dan tidak setuju dengan BLT (Bantuan Langsung Tunai) karena sebenarnya tidak memecahkan masalah bagi kaum miskin. Saya punya pendapat sendiri tentang BLT ini. Dari awal pemerintah mengucurkan dana ini, saya sudah merasa agak kurang setuju, kenapa?

1) BLT diberikan secara cuma-cuma, dan saya khawatir ini akan membuat manusia Indonesia semakin malas berusaha dan hanya menggantungkan pada BLT.

2) Tidak tepat sasaran (rakyat miskin) karena data rakyat miskin yang dilaporkan/diusulkan belum tentu benar (biasalah Indonesia masih banyak nepotisme dan kolusi).

3) semangat untuk berusaha menjadi orang kaya akan pupus karena yang terpikir ngapain susah-susah kerja dan berusaha wong gak kerja juga bisa dapat uang (dapat BLT). (moga-moga itu cuma suudzon-nya saya saja ya…)

Tapi..ya udahlah, sebagai penduduk saya cuma bisa menunggu kebijakan pemerintah dan semoga pemerintah tidak salah dalam mengambil kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (publik).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s