Endonesiah………

Hari ini, di kantor, ditengah resah dan gelisah hatiku karena mengingat anak2 yang selalu kutinggalkan seharian dirumah, aku membaca blog keluarga Nugraha yang tinggal di Australia. Sebenarnya udah sejak pertama kali surf per-blog-an di internet aku sudah mengenal blog ini tapi sudah cukup lama aku tidak mengaksesnya lagi karena aku kurang begitu suka dengan cara penulisannya. Namun hari ini surf-ku di google membawaku kembali keblog itu dan kutemukan foto2 lucu yang segera membuatku menerawang pada anakku yang kutinggalkan dirumah. Betapa menyenangkannya seorang ibu bisa tinggal dirumah mengurus dan merawat anak2nya sendiri. Dalam blog itu tergambar kegembiraan seorang ibu yang dengan suka cita menceritakan bagaimana anak2 nya tumbuh dengan sehat, tak pernah ke dokter kecuali untuk imunisasi dan chek up kesehatan rutin yang mungkin memang sudah menjadi kewajiban di Australia. Dituliskan juga bagaimana si Ibu tidak mempercayai bahwa sebuah penyakit akan sembuh dengan dibawa ke dokter, bahwa di Australia para dokter tidak gampang meresepkan suatu obat untuk pasiennya (gak seperti dokter Indonesia yang paling gampang meresepkan berbagai macam obat dan vitamin/suplemen demi mendapatkan komisi dari perusahaan obat) dan bahkan seringnya para pasien itu pulang dengan tanpa membawa obat sebijipun selain pesan dokter untuk banyak beristirahat dan meningkatkan kualitas asupan gizinya agar si penyakit segera lenyap. Pun diceritakan bagaimana si Ibu  teramat sedih dengan tingkah Ibu2 di Indonesia yang selalu ribut menanyakan vitamin atau suplemen apa yang bisa diberikan untuk anak2 mereka agar bisa tumbuh sehat dan gemuk tentunya.  Setelah membaca semua itu, aku jadi kepikiran kenapa Indonesia tidak bisa seperti itu yaa? Kenapa di Indonesia ini (khususnya Jakarta dan sekitarnya) penyakit pilek atau batuk aja bisa menjadi begitu kronis jika tidak dibawa ke dokter? kenapa pula tiap kali ada anak yang tidak naik2 berat badannya atau suka batuk pilek selalu dirujukkan untuk melakukan test mantoux, rontgen, test darah yang ujung2nya pasti diagnosa nya ke flek/TB Paru? Padahal dari sekian banyak obrolan ibu2 di mailist yang pernah kubaca berdasarkan pengalaman mereka seringkali diagnosa itu salah, dan ketahuannya setelah sang anak telah meminum obat anti TB selama beberapa bulan! menyebalkan memang hidup dan tinggal di Indonesia ini (baca: terutama Jakarta dan sekitarnya!) Segalanya sangat berbeda dengan di negara2 yang sudah menerapkan pola hidup sehat pada rakyatnya. Kapan ya ..endonesiah (meniru cara penulisan keluarga Nugraha🙂 ) bisa seperti Australia, New Zealand dan negara2 maju lainnya? dan yang terutama kapan ya aku bisa seperti Ny.Nugraha yang bisa bekerja dan tinggal di rumah serta mengasuh anak2nya sendiri,  menikmati kebahagiaan seperti beliau? kapan? kapan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s