Torey…

“…….Manusia tidak  merasa  penuh kasih dan tenang setiap saat. Manusia terkadang merasa jengkel atau marah atau lelah atau kecewa, dan semua itu menjadi bagian dari kita juga. Dan, sekalipun kita perlu mengendalikan emosi-emosi itu agar tidak menyakiti orang lain, itu tidak sama dengan bersikap seakan-akan semua emosi itu tidak ada. Dan tidak salah kalau kita merasakan emosi seperti itu. Kita mengatakan kebohongan emosi ketika kita bertindak seakan kita tidak mempunyai perasaan-perasaan ini.”

kutipan kalimat di atas kuambil dari buku Torey Hayden berjudul VENUS, duka lara si anak cantik. Kalimat tersebut diucapkan Torey ketika Julie, guru asisten, bersikap terlalu lemah lembut terhadap Shane, salah satu murid Torey yang menderita sindrom tourette, yang telah memecahkan patung kucing yang merupakan hadiah untuk Torey dari Billy (salah satu muridnya yang menderita Hyperaktif sehingga selalu bergerak liar dan meracau) dengan mengatakan bahwa tindakan Shane itu adalah kejadian yang wajar dan hanya suatu kecelakaan biasa. Padahal Torey ingin mengajarkan kepada Shane bagaimana menghargai milik orang lain.

Buku itu sendiri sesungguhnya menceritakan tentang Venus, seorang gadis afro-amerika yang menderita multi elektis, tidak mau berbicara sama sekali dan hanya berdiam diri bagaikan patung. Torey malah mengibaratkannya seperti tanaman, hidup tapi tidak merespon terhadap apapun. Kalau menurutku, buku ini hampir sama dengan cerita tentang Jadie,seorang anak yang juga tidak mau berbicara tentang apapun juga karena tekanan hidup yang dihadapinya. Bedanya kalau Jadie diakibatkan oleh kekerasan seksual yang dialaminya sedangkan Venus selain dikarenakan kekerasan seksual yang dialami oleh ibunya (wanda, yang baru berusia 16 tahun dan menderita keterbelakangan mental yang dihamili oleh pacar ibunya sendiri) juga karena minimnya rangsangan yang diterimanya sewaktu bayi dan balita serta karena penganiayaan yang dilakukan oleh Danny, pacar Teri (yang sebenarnya adalah neneknya tapi dianggapnya sebagai ibunya dan wanda dianggapnya sebagai kakaknya).

Membaca buku-buku Torey merupakan hal yang sangat menyenamgkan sekaligus menegangkan karena aku jadi lebih banyak tahu tentang sebab dan akibat yang akan ditanggung seorang anak yang menderita segala macam kecacatan, keterbelakangan mental, dan bagaimana seorang Torey mengintervensi murid-muridnya itu. Cara-cara yang dilakukan Torey sebenarnya juga sangat membantuku dalam memahami segala tingkah dan polah anak2 normal yang terkadang tindakannya juga teramat menjengkelkan.     Membaca buku Torey adalah menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana seharusnya bertindak dan berlaku terhadap anak, dan terkadang itu membuatku sedih karena aku tidak bisa memberikan perhatian secara penuh yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh anak2ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s