Wanita Bekerja = Kebutuhan, Keharusan, Keterpaksaan?
Postingan ini berawal dari survey (ceilahhhh)
yang kulakukan beberapa waktu lalu. Survey-nya sendiri tidak dilakukan secara langsung dengan meminta volunteer mengisi formulir kuesioner kayak mo bikin skripsi lho ya…tp melalui bincang2 santai aja. Pertanyaan awal ya..muter2 dulu lah…,mulai dari nanya urusan keluarga, anak sampe akhirnya bertanya kenapa memilih bekerja (istilah kerennya ngerumpi dulu…hihi) eh…ngerumpi boleh kan ya? yang gak boleh kan nggosip
.
Dan hasilnya dari sekian banyak wanita (baca= Ibu rumah tangga yang bekerja diluar rumah) yang sudah kuajak ngerumpi, terbagi menjadi 3 Kategori ini :
1. Bekerja karena KEBUTUHAN
Yang dimaksud disini bukan kebutuhan dalam arti butuh nambah duit buat perekonomian keluarga…karena rata2 suami mereka juga berpenghasilan lumayan dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga tanpa si Ibu harus bekerja diluar rumah, tapi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Kebutuhan untuk dihargai. Kebutuhan untuk menyalurkan ‘bakat terpendam’ (halah istilahnya itu lho..
). Kebutuhan untuk bersosialisasi/berinteraksi dengan dunia luar. Kebutuhan untuk terus berkembang dan mengembangkan diri…pokoknya yaaa..gitulah…
2. Bekerja karena KEHARUSAN
Nah..kalau kategori yang ini barulah bekerja karena keharusan membantu suami dalam menafkahi keluarga. Rata-rata mereka bekerja karena penghasilan para suami tidak cukup untuk membiayai beban rumah tangganya. Jadi..ya..memang harus keluar rumah untuk bekerja dan mendapat tambahan duit.
3. Bekerja karena KETERPAKSAAN
Pada kategori ini, si Wanita sebenarnya tidak ingin bekerja, ingin di rumah saja melaksanakan tugasnya sebagai seorang Ibu rumah tangga dalam membimbing dan membina putra-putrinya. Tapi karena adanya dorongan/paksaan/tekanan untuk tetap bekerja dari lingkungan sekitar maka dia harus bekerja keluar rumah. Dorongan/paksaan/tekanan itu bisa berasal dari keluarga sendiri, keluarga suami, lingkungan tempat tinggalnya/lingkungan sosialnya dsb.
Nah…dari ketiga kategori di atas, sebenarnya yang paling asyik itu ya kategori pertama dimana sang wanita/Ibu bekerja karena memang ia ingin bekerja (menurutku lho…).
Tapi itu baru survey kecil2an yang kulakukan dilingkungan tempat kerjaku…mungkin kalau diperluas survey-nya, pengkategoriannya bisa bertambah, misalnya menjadi kategori gabungan antara kategori 1 dan 3, gabungan kategori 2 dan 3 atau gabungan kategori 1 dan 2 or malah nambah lagi jenis kategorinya.
Hehe…jadi pingin bikin survey yang lain lagi nih… (sshhhhahhh..maksudnya pingin ngerumpi lagi wakwkwkwkwkwaaaakkkk)
kerinduanku
Kerinduanku yang terdalam, yang selama ini harus selalu kupendam jauuuuuhhhh di dalam lubuk hati adalah mendampingi anak2ku di rumah.
Betapa ingin rasanya setiap hari bisa mengantar mereka berangkat sekolah walau hanya di depan pintu rumah saja dan menyambut mereka dengan tangan terbuka ketika mereka pulang sekolah. Melihat senyum ceria mereka dan merasakan pelukan kerinduan mereka pada ibunya
.
Kerinduanku yang terdalam, yang selama ini hanya bisa kuangankan adalah mendengarkan cerita yang mengalir dari mulut mungil mereka tentang kabar mereka disekolah, tentang kegiatan mereka di sekolah, tentang cita2 mereka dan tentang segala permasalahan mereka secara lengkap dan mendetail yang selama ini hanya kadang2 saja kudapatkan karena terhalang waktu kerjaku, pergi ketika matahari masih malu-malu menampakkan diri dan pulang ketika matahari telah kelelahan menghangatkan bumi
.
Kerinduanku yang terdalam, mendampiringi mereka di hari-hari yang harus mereka lalui, merasakan setiap bahagia dan galau mereka, mendampingi saat belajarnya, menjelaskan segala yang ingin diketahui dan dimengertinya, bersama merasakan hangatnya mentari dan dinginnya hujan, menyambut bergantinya hari dan menatap mata-mata jernih mereka.
Kerinduanku…yang kuyakin juga merupakan kerinduan ibu-ibu bekerja (terutama yang di Jakarta dan kota2 yang sejenis atau yang malah harus terpisah jauh) yang entah kapan akan terwujud nyata.
Kerinduanku..untuk anak-anakku….
Maafkan Ibu, yang belum mampu mendampingimu di setiap waktumu.
Gayus…gayus….
Sebenarnya, saya nggak ingin komen masalah Gayus, itu sebabnya sejak awal kasusnya mengemuka di mass media saya g pernah posting meski saya secara g sengaja selalu mendengar dan melihat (lha wong dikantor teman saya selalu nyalain TV, katanya kalau TV g nyala g bisa kerja
benar2 kecanduan dia) serta membaca perkembangan kasusnya (teman2 rajin beli koran mulai dari Republika, Kompas sampai Lampu Merah, lampu Hijau— hehe ada g sih?—dan juga karena saya rajin ngider ke ruang Direktur dimana tumpukan koran, majalah dan tabloid yang selalu up to date tergeletak di meja setelah dibaca oleh beliau) ![]()
tapi….hari ini saya betul betul pingin posting tentang dia. Saya merasa mangkel bin jengkel membaca komen teman2 di treat/komunitas or di blog2 yang posting tentang kasus Gayus dengan gayanya masing2.
Saya mangkel kalau karena kasus Gayus trus seluruh moral pegawai di Instansi Kemenkeu digebyah uyah (disamakan) dengan Gayus.
Saya jengkel kalau karena Gayus trus seluruh penghasilan pegawai di Kemenkeu disamakan dengan penghasilan Gayus.
Kenapa?
Lha karena g semua pegawai Kemenkeu itu gila duit seperti dia kok. Masih banyak pegawai Kemenkeu yang hidupnya prihatin. Rumah masih ngontrak/nyicil, mobil belum punya, naik bus/angkot kalau ke kantor, mengembalikan uang yang bukan haknya ke kas negara, menolak segala macam suap…pokoke masih banyak yang baik.
Soal penghasilan…catat ya….Kemenkeu itu ada beberapa Direktorat Jenderal dan masing2 Direktorat Jenderal tidak sama dalam memberikan tunjangan. Memang kalau untuk Dirjen pajak dimana Gayus (pernah) menjadi pegawai dan Dirjen Bea Cukai memberikan insentif yang tinggi untuk para pegawainya karena ya memang disana banyak sekali godaan yang berupa duit…so dengan insentif yang tinggi diharapkan mereka g akan tergoda lagi dan khusus untuk Bea Cukai diberikan lebih karena ada yang harus mempertaruhkan nyawanya dalam bertugas.
Dan satu lagi yang membuat saya meringis, menahan pedih…kalau karena kasus Gayus lalu banyak yang mengumpat bahwa semua lulusan almamater dimana Gayus dulu sekolah dinyatakan mempunyai mental yang sama dengan Gayus !
Padahal yang korupsi di negeri ini bukan cuma Gayus, yang lulusan dari PT or ST yang lain juga banyak,tapi kenapa almamater mereka tidak ikut dikambinghitamkan?
Padahal yang korupsi di negeri ini bukan cuma ada di Kemenkeu, pegawai Kementerian lainpun banyak, tapi kenapa kementerian mereka tidak ikut diseret-seret dalam pergunjingan ?
Mbok ya yang adil…
27 oktober 2010
27 oktober 2010 adalah tanggal saat Yang Kuasa berkenan memanggil kembali lelaki yang telah berjasa dalam kehidupanku
Lelaki perkasa yang tak pernah silau akan dunia
Lelaki yang zuhud dalam menapaki kehidupannya
Lelaki yang penuh tanggungjawab dalam memimpin keluarganya.
27 Oktober 2010 adalah saat dimana Yang Kuasa berkehendak mengambil ruh yang tertanam dalam raga bapak
seorang bapak yang penuh kasih dalam membimbing putri-putrinya
seorang bapak yang tak hendak meninggalkan beban hutang terhadap keluarga yang ditinggalkannya walau sepeserpun.
27 Oktober 2010 adalah waktu saat Yang Maha Memiliki Kehidupan menginginkan mengambil sebuah kehidupan yang telah dianugerahkanNya pada hambaNya dalam rentang waktu 72 tahun
rentang kehidupan yang penuh pelangi, suka,cita, perjuangan, pengharapan, kepasrahan…
Selamat jalan Bapak…semoga Allah selalu melapangkan kubur Bapak, melindungi Bapak dari siksa kubur dan siksa neraka, mengampuni segala dosa-dosa Bapak , menerima segala amal kebaikan yang tlah Bapak tanam dalam kehidupan ini dan menempatkan Bapak dalam surga-Nya. Amin.
Terima kasih yang tak terkira kuhaturkan padamu Bapak, atas segala yang telah Bapak perjuangkan untuk kami, putri-putrimu, atas segala cinta dan kasih sayang yang telah Bapak curahkan dalam kehidupan kami, atas segala rindu yang mungkin belum sempat kami balaskan karena jarak dan waktu.
Selamat jalan Bapak, do’a kami akan selalu menyertaimu.
I LOVE YOU ALWAYS….
Lagu anak2 jadul
Kemarin baca threat tentang Agnes Monica di sebuah web, membaca komen para member tentang sang artis, ada yang pro ada yang kontra (biasalah…) jadi teringat lagu anak2 pada masa saya kecil dulu (g nyambung ya?…nyambung dong kan si Agmon dulu juga penyanyi cilik
). Ada Chicha Kuswoyo, ada Adi Bing Slamet, ada Fitria Elvie Sukaesih, Diana Papilaya, Dina Mariana de el el (meski pada waktu saya kecil mereka sudah beranjak remaja..).
Sampai sekarang masih inget beberapa lagu mereka…dan sampai sekarang pun masih terasa betapa menyenangkannya menyanyikan lagu2 mereka *nerawang mode on* Terkadang saya masih menyenandungkan lagu2 itu untuk anak2 saya.
Kalau dirasa-rasa…lagu anak2 jaman dulu lebih mengena buat anak2, liriknya yang ceria dan musiknya yang tidak terlalu berat walau juga g bisa disebut ringan (jika dibandingkan dengan genre musik dewasa jaman itu juga lho…) bisa menggiring anak2 untuk memahami pesan2 yang ingin disampaikan melalui lagu…seperti lirik lagu KERANJANG SAMPAH yang dinyanyikan Chicha dan Helen Kuswoyo
Keranjang sampah banyak gunanya
meskipun jelek bentuk rupanya
siapa tahu jasa-jasanya
keranjang sampah banyak gunanya
Reff. Aku…. tahu……
apa gunanya
Tempat…barang….
yang tak berguna…
Lagu itu dulu saya gunakan untuk membuat anak2 saya terbiasa membuang sampah pada tempatnya, tidak hanya saat di rumah namun juga saat di luar rumah. Hingga saat inipun anak-anak tak pernah membuang sampah sembarangan hingga saking mengenanya anak2 bahkan selalu menyelipkan bungkus permen atau bungkus jajanan didalam sakunya jika belum menemukan tempat sampah diperjalanan dan baru membuangnya ketika sampai di rumah (di keranjang sampah tentunya
)
Atau lagu untuk menyayangi adik kecil yang dinyanyikan Chicha Kuswoyo juga (lupa judulnya…hiks
)
Goyang-goyang duduk dikursi goyang
Malas-malas duduk di kursi malas
Adik kecil itu mau disayang
Kalau nakal tak perlu kau membalas
Reff. Mang timang timang
Adikku sayang
Mang timang timang
Adikku sayang
Bukan beras sembarang beras oi beras yang asli dari Bekasi 2X
Tali tambang siikat kembang oi gendang dipukul si lagu dangdut 2X
dangdut dangdut
dangdut dangdut
dang dang dangdut dut dut….
(lagunya Adi Bing Slamet dan Fitria Elvie Sukaesih..musiknya ceria buanget, sayang g inget liriknya secara full)
Atau lagu-nya Chicha yang judulnya Heli (Top banget kala itu)
Aku punya anjing kecil
kuberi nama Heli
dia senang bermain-main
sambil berlari-lari
Reff. Heli (guk..guk..guk)
Kemari (guk..guk..guk)
Ayo lari lari
Heli (guk..guk..guk)
Kemari (guk..guk..guk)
Ayo lari-lari.
(meski saya tidak punya gukguk..saya senang menyanyikannya hehehe…)
*nginget-inget lagu apa lagi yaaa……*
Saat anakku bertanya “sunat itu sakit g, bu?”
Yup…begitulah pertanyaan anak sulungku yang saat ini sudah menginjak usia 9 tahun. Percakapan yang terjadi pada pukul 20.00 saat aku sedang melepas lelah setelah mandi dan makan malam sedang suamiku belum pulang.
Awalnya anakku itu bercerita tentang teman2 nya yang sebagian sudah dikhitan (sunat) lalu lama2 nyerempet ke dirinya sendiri yang kebetulan belum berkhitan.
Begini dialog lengkapnya * mohon maaf jika ada kata2 yang agak kurang pantas untuk ditulis
*
Anakku (A) :”Bu, kakak kan sekarang udah 9 taun ya…berarti sebentar lagi kakak harus sunat dong…”
Aku (I): ” Ya iyalah…kan udah gede”
A :” Kalau sunat itu sakit g sih,Bu?”
Aku diam sejenak, mikir, kalau kubilang sakit nanti dia g berani di khitan karena kebetulan anakku itu takut ngelihat darah dan kalau luka sedikit jejeritannya udah ampun-ampunan. Tapi kalau kubilang g sakit berarti bohong padahal selama ini apapun selalu kusampaikan dengan jujur kepadanya…*menimbang2 mode on*
I : ” Ya..sebenarnya sakit juga sih Kak, tapi kan udah dibius dulu jadi g bakal kerasa”
A : “Dibius dulu ya Bu?”
Aku mengangguk
A: “Tapi kan kalau dibius berarti sakit juga..kan disuntik dulu”
I: ” Iya, sakit sedikit seperti digigit semut”
Dia diam sejenak..seperti sedang membayangkan sakitnya disuntik or mungkin membayangkan sakitnya digigit semut…..
A: ” Yang disuntik yang mananya, Bu? tititnya?”
Aku gelagapan sejenak…bingung mau jawab apa, karena selama ini aku juga belum pernah menyaksikan secara langsung proses khitan hanya mendengar ceritanya saja. Sambil sedikit mengernyit dan ragu sedikit aku mencoba menjawab
I: “Bukan, bukan pas di tititnya Kak, tapi dibagian atas titit” (bener g sih?
)
A: ” Di atas sini Bu?” (sambil menunjuk)
Aku mengangguk sok tahu…
A: ” Hi…..tetep aja sakit Bu”
I: “Iya, tapi kan sebentar doang, habis itu kan jadi baal, baru disunat”
(Kebetulan anakku termasuk yang hobi baca, jadi untuk beberapa kata dia sudah mengerti tanpa harus dijelaskan, seperti kata baal diatas)
Kulirik anakku, dia sedang sibuk membolak-balik buku yang sedari tadi dipegangnya. Kupikir tak akan ada lagi pertanyaan, tapi ternyata…..
A: “Bu, kata ayah, kalau orang dulu sunatnya pake golok ya….”
Aku tersenyum, teringat suamiku yang suka bercanda dengan menakut2i anakku
I: ” Iya mungkin”
A: ” Trus g pake dibius ya Bu…hi….” Kulihat mimik wajahnya yang meringis seakan merasakan sakitnya….
I: ” Dulu banget, kan dulu belum ada obat bius. Tapi pasti adalah kak cara untuk menghilangkan sakit waktu sunat. Ibu pernah baca ada satu tradisi dimana sebelum disunat si anak disuruh berendam dulu dalam air dingin selama beberapa lama, nah..kalau anak itu sudah merasa kedinginan baru disunat”
A: “O..kakak tau, karena kedinginan kan jadinya saraf2 perasanya jadi diam ya Bu, jadi g bisa ngerasa sakit lagi. Itukan kayak waktu ke dokter gigi, sebelum dicabut giginya dikompres dulu pake alkohol jadinya dingiiiiin banget…hehe…”
Aku mangut-manggut.
A: ” Kalau sekarang sunatnya pake cara yang macem2 kan Bu?”
I: ” He em” jawabku sambil menahan ngantuk…maklum udah mendekati jam 21.00. Entah sudah berapa kali aku menguap.
A: “Ada yang pake laser, ada yang pake cincin juga kan Bu…”
Anakku masih sibuk mengingat-ngingat metode sunat yang pernah didengarnya
A: “Bu, kalau sunatnya udah gede banget, jadinya lebih keras ya Bu…katanya jadi lebih susah”
Aku diam saja, tidak menyahut.
A: “Tapi kalau sekarang, kakak belum berani Bu….nanti aja nunggu kalau kakak siap ya Bu..”
aku mengangguk…
I: ” Tapi jangan kelamaan Kak, nanti keburu suara kakak berubah”
A: ” Iya, ya..kalau suara kakak udah berubah berarti kakak udah baligh ya Bu.”
Aku menangangguk lagi.
A: ” Kalau baligh kata Pak Guru tanda2nya kalau anak perempuan dapet haid, kalau laki2 kayak kakak dapet mimpi basah. Mimpi basah itu apaan sih Bu?”
Gubrak!!!!
Aku nyengir….. auo…..pertanyaan dewasa nih….gimana menjelaskannya? akukan bukan laki2 , gak ngalamin sendiri apa itu mimpi basah. Tapi kan..ini kewajiban orang tua untuk menjelaskan….daripada dia dapat jawaban salah dari orang lain
…..*mikir mode on*….. *ngantuk menguap entah kemana* tapi jawaban belum keluar juga. Pikir, pikir..ayo pikir….kalau menjelaskan masalah haid aku sudah pernah, menjelaskan masalah melahirkan juga sudah, dan semuanya lancar2 saja karena memang aku langsung mengalaminya ditambah lagi anakku ini sudah pernah menyaksikan bagaimana ibunya berdarah2 saat melahirkan sang adik dan bantuan tantenya yang dosen kebidanan dengan membawakan VCD proses kelahiran (padahal sih VCD itu dibawa untuk dipelajari oleh mahasiswa si tante
, tapi berhubung waktu nyetel ketahuan anakku sekalian saja sama tante dijelasin sambil nonton). Dan yang kusyukuri anakku itu g sampe trauma.
I: “Errr..kak, ibu pikir sebaiknya kakak nanya langsung aja sama ayah” *aku nyerah..hiks* lalu kulanjutkan memberi alasan ” Kalau ayah kan laki2, sama kayak kakak, jadi pasti lebih enak njelasinnya”
A: “Tapi kan ayah belum pulang Bu”
I: “Ya nantilah nunggu kalau ayah sudah pulang”
Kuperhatikan anakku itu seperti memendam ketidakpuasan, tapi biarlah…kupikir memang sebaiknya ayahnya saja yang menjelaskan jadi kalau nantinya ada pertanyaan lanjutan aku g gelagapan menjawab.
**************************
Hhhhh….ternyata jadi orang tua itu memang harus banyak belajar ya…terutama belajar menjelaskan segala sesuatu yang ingin diketahui sang buah hati tanpa membuat si anak menjadi tambah bingung or jadi ketakutan or jadi terlalu penasaran (hingga mencoba hal yang seharusnya belum layak dia lakukan).
Adakah yang mau sharing ?
Lanjutan, Pengalaman MRI III
(hopefully, that, this will be the last episode of this story…
)
Setelah menerima rekomendasi dari Dokter Neurolog, dan karena hari itu sudah siang, aku baru bisa bertemu dengan Dokter spesialis rehab medik pada keesokan harinya. (tentang administrasi yang bertele-tele di loket pendaftaran pasien g usah diceritakan ya….)
Singkat cerita, Sang Dokter segera melihat catatan hasil pemeriksaan dari Dokter Neurolog sekaligus melihat hasil MRI, kembali yang kudapat berita gembira bahwa tak ada yang mengkhawatirkan dengan leher dan bahuku. Namun, untuk mempercepat pemulihan beliau merekomendasikan untuk fisioterapy. Segera aku keluar dari ruang dokter dan mendaftar untuk antri fisioterapi. Biaya pendaftaran sebesar Rp10.000 (biaya terapi ditanggung ASKES
) yang bisa langsung dibayar dimuka untuk 5 kali terapi (paket I dari ASKES memang 5 kali, setelah 5X maka akan direview apakah masih perlu dilanjutkan atau tidak). Dan karena aku berpikir praktisnya saja dengan disertai pertimbangan lamanya waktu ngantri untuk pendaftaran kuputuskan untuk langsung bayar dimuka 5X biaya pendaftaran.
Setelah itu aku langsung menuju ke klinik fisioterapi yang ada di RS tersebut, dan sesuai dengan harapan, aku bisa mendapatkan terapis perempuan. Awalnya aku berharap bahwa fisioterapi yang kuterima sama dengan yang kuterima waktu aku fisioterapi di Joglo karena berdasarkan surat dari Dokter Spesialis Rehab Medik tindakan terapi yang akan aku terima meliputi terapi dengan menggunakan lampu sinar merah untuk menghangatkan daerah yang diterapi, US (pemijatan dengan alat ultrasonografi berbentuk seperti ulegan-terapis di RS itu sering menyebutnya dengan sebutan uleg-uleg..hihihi…karena memang bentuk alatnya seperti ulegan bumbu cuma beda materialnya dan terasa hangat karena tersambung dengan listrik), kemudian sengatan listrik (jangan mbayangin sengatan dengan watt yang tinggi ya…hehehe…) dan massage.
Tapi ternyata yang kuterima cuma 2 tindakan, terapi dengan sinar merah dan sengatan listrik o_o , yang bikin sebal lagi, terapisnya menuliskan keempat tindakan terapi yang tertulis dalam resep dokter ke dalam kuitansi yang nantinya akan diajukan ke PT ASKES untuk dimintakan penggantian biaya! Masya Allah!!! (cuma sayangnya hal itu baru kuketahui setelah keluar dari ruangan terapi dan untuk masuk lagi harus ngantri lagi..uurrrggggghhh!!! sebalnya!) dan selesai terapi itu sama sekali ga ada pengurangan rasa sakit seperti halnya yang kurasakan setelah terapi di Joglo dulu. Sama sekali ga ada enak2nya. Akhirnya aku bertekat bahwa besok aku harus menemui dokter rehab mediknya untuk mempertanyakan hal itu, maksudku sih ingin supaya sang dokter yang ngomong langsung ke terapisnya gitu…..
Esok harinya aku kembali ke RS tersebut, dan langsung ke loket pendaftaran pasien, saya bilang ke petugas loket bahwa saya ingin bertemu dengan dokter tapi petugas itu mengatakan bahwa aku tidak boleh ketemu dokter lagi sebelum selesai 5X terapi. ealah…..akhirnya dengan sedikit merayu kubilang bahwa aku perlu konsultasi lagi karena ada yang belum tersampaikan kemarin, dan alhamdulillah petugas tersebut membolehkan dengan ancaman bahwa hal itu tidak boleh diulang lagi! alasannya ASKES ga mau menanggung biaya dokter berulang-ulang (kalau yang ini aku ga tau bener apa ga). Di ruang dokter segera kusampaikan unek-unek tentang kejadian terapi kemarin, tapiiiiiiiiiiiiiii……yang kuterima bukannya pemecahan masalah sebaliknya dokter tersebut dengan arogan langsung teriak memanggil perawat yang biasanya manggilin antrian pasien dan bilang kalo permasalahanku itu bukan dia yang nanganin, dan diluar ruangan dokter perawat tersebut dengan nada galak bin ketus bilang “Bu, kalo ada masalah itu jangan bilang ke dokternya, ke petugas loket saja” lha..kupikir kalo ke petugas loket ya sama aja boong, mana mungkin ada tanggapan kan mereka tugasnya cuman mendaftar pasien2 yang mau ketemu dokter or terapi!
Sebalku bertambah-tambah, tapi berhubung aku udah bayar 5X pertemuan kuteruskan terapi sampai 3X dengan harapan ada perubahan meski perlahan..tapi hingga 3X terapi sama sekali tidak ada perubahan bahkan sakit yang kurasa semakin bertambah-tambah sedangkan untuk minum obat dari dokter aku udah ga sanggup lagi, karena pernah sekali kuminum obat2an itu efek yang kurasakan adalah perut kembung, mata ngantuk tapi kepala terasa pusing luar biasa hingga tidak bisa tidur dan muntah2 g karuan seperti orang yang lagi hamil muda!
Pernah dalam satu kali pertemuan terapi aku ketemu dengan seorang ibu yang sudah tua, kutanya sudah berapa kali terapi katanya sudah 15X tapi jempolnya masih ngilu (kebetulan ibu tersebut sakit di jempol) hmmmm…
akhirnya kuputuskan untuk quit, berhenti terapi di RS tersebut selain karena pelayanannya yang tidak sesuai juga karena waktuku yang selalu habis untuk menunggu di RS tersebut, padahal untuk kesana aku harus mengambil jam kantor (biasanya aku datang ke RS jam 07.00 WIB, baru mendapat giliran pada pkl 10.00 WIB dan selesai pada pkl 11.30 WIB…jangan disangka dari pkl 10.00 ke 11.30 itu aku menjalani terapi terus2-an, tapi ada jeda waktu yang lumayan lama untuk beralih dari satu tindakan ke tindakan berikutnya)
dan untuk itu aku harus kembali menemui dokter rehab medik.
Keesokan harinya, karena ingin semuanya cepat, aku tak lagi menggunakan askes tapi lewat jalur pasien biasa dengan resiko semua biaya ditanggung sendiri, tapiiiiiiiiiiiii…itupun tidak semulus dugaanku! aku masih harus pontang-panting mencari berkasku sendiri karena alasan petugas di loket pendaftaran pasien biasa berkas rekam medik (RM)-ku berada di ruangan ASKES. Okelah…aku bisa mengerti, maka aku langsung ke loket pendaftaran ASKES untuk meminta berkas RM-ku dan setelah tanya kesana kemari ruangan mana dan siapa yang harus kutemui kepada sekian banyak petugas berseragam di sekitar lokasi itu (kesan yang kudapat..petugas2 di RS ini betul2 cuek bebek dengan para pasien) akupun menemui petugas di ruangan arsip RM ASKES yang sedang santai , tapiiiiiiiiiiiiiiiiiii…sekali lagi tapiiiiiiiiiiiiii…apa jawaban petugas arsip tersebut?………
” Nanti saja mbak, kucarikan, sekarang lagi sarapan…lagian aku masih capek habis dapet piket malam kemarin”
what???? ini sudah jam 09.00 Bu…kalau mau sarapan kenapa ga dari tadi? inikan instansi pelayan publik yang udah buka dari jam 07.00 tadi dan bahkan bisa dibilang 24 jam untuk klinik2 tertentu? lagian kalau dirimu sudah piket semalam kan ada petugas pengganti dirimu, kemanakah dia???? batinku meluap-luap, sabar…sabar….kuambil nafas dalam2 dan masih sambil berhusnudzon serta mencoba berempati dengan keadaan petugas tersebut aku bilang..
“O…maaf ya Bu, tapi boleh tidak saya bantu mencarinya? atau mungkin ada petugas lain Bu?”
“Kalau mau tumpuk disitu saja kartunya…” jawabnya cuek.
Allah…………ya sudah, daripada terus2n ngotot aku mengalah.
” Ya, sudah Bu, saya tunggu di instalasi Rehab Medik ya..tolong segera Bu, karena dokter sudah mulai memeriksa pasien sejak jam 08.00 tadi, takutnya dokternya keburu pergi karena hari ini saya lihat pasien tidak begitu banyak. Makasih ya Bu” kataku sambil pergi menuju instalasi Rehab Medik.
Tunggu..dan kutunggu…hingga pasien terakhir aku belum juga dipanggil, aku tanya ke petugas di loket pendaftaran rehab medik katanya berkas belum datang padahal sudah pkl 11.00 dan dokter akan segera mengakhiri prakteknya. Akhirnya aku memberanikan diri untuk negosiasi dengan petugas tersebut, kubilang keperluanku ke dokter adalah untuk minta surat pindah terapi, dan aku sudah mendaftar sebagai pasien biasa serta kutunjukkan bukti kunjungan terakhir fisioterapi-ku, dan berhubung dokter akan pergi maka petugas tersebut minta agar dokter mau menemuiku. Dan alhamdulillah beliau bersedia.
Setelah mendapat surat pindah terapi dari Dokter, karena penasaran aku balik ke ruang arsip RM ASKES sambil bermaksud mengambil kartu RS yang tadi kutinggalkan , ibu petugas yang tadi sudah ga ada dan diganti oleh ibu yang lain. Kucari ibu petugas tersebut dan ketemu…tapi…kembali harus bersabar….
” Bu…saya mau nanya….” belum selesai kalimatku ibu itu berkata ” nanti dulu…” sambil berlari dengan menenteng sebungkus nasi dan segelas air aqua. Kutunggu di depan pintu ruangan, ketika beliau melintas hendak memasuki ruangan aku berkata lagi ” Bu..saya…”
” Sebentar dulu kenapa sih…nggak sabar amat, saya mau minum dulu” katanya sambil berlalu, karena sudah tak sabar lagi dan karena waktu sudah sangat siang serta aku harus segera kembali ke kantor kukejar beliau masuk ke dalam ruangan dan sambil menahan intonasi suara aku berseru….” Bu.. dokter sudah pergi, dan saya cuma mau bilang kalau saya tidak memerlukan berkas RM lagi, dan saya mau mengambil kartu berobat saya”
” Oh..dokternya sudah pergi? wah padahal baru mau kuantar berkasnya tadi”.
Kulihat di atas meja, berkas RM-dan kartuku tergeletak sendirian didalam keranjang……..segera kuambil kartuku dan berlalu dari ruangan itu sambil membatin…….”memang Ibu ga tau ini sudah jam berapa?”
(Alhamdulillah, berdasarkan surat pindah terapi tersebut, aku bisa terapi di sebuah RS swasta di dekat rumah dengan seorang terapis perempuan. Awalnya seminggu 4X, kemudian seminggu 2X, seminggu 1X, 2minggu sekali dan sekarang pada saat terasa sakit saja sebagai upaya pencegahan terulangnya keluhan yang berat. Rasa sakit dibahu dan leher kadang2 masih timbul kalau terlalu capek namun sudah tak terlalu mengganggu dan dapat diatasi dengan stretching dan mengubah posisi duduk. Moga2 suatu saat nanti leher dan bahuku benar2 pulih dan normal seperti sedia kala
dan mudah2an kisahku ini bermanfaat untuk teman2 yang lain, aamiin).
Lanjutan, Pengalaman MRI II
(Alhamdulillah ya Rab….akhirnya ada juga kesempatan menuangkan sepenggal pengalaman hidup yang telah kau berikan padaku.)
Setelah menunggu beberapa pasien yang telah menunggu terlebih dahulu, akhirnya tiba juga giliranku. dengan deg-degan kumasuki ruang dokter dengan ditemani suamiku (terimakasih ya Yang…telah sabar menungguku, semoga Allah membalas segala pengorbananmu, aamiin), segera kuserahkan hasil MRI yang terdiri dari 3 lembar foto dimana masing2 lembar terdiri dari 8 gambar. Dokter itu melihat foto2 itu dengan mata telanjang (tanpa menggunakan alat yang biasanya digunakan untuk melihat hasil foto rontgen) sementara aku benar-benar cemas
, takut kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpa bahu dan leherku. apalagi kalau nanti jatuh vonis bahwa aku harus menjalani pembedahan hii..naudzubillahimindzaalik…jangan sampai itu terjadi. Sepertinya harus kujelaskan disini kenapa aku sampai kepikiran sejauh itu. Sebelumnya aku telah melakukan browsing tentang sakit bahu yang berkepanjangan ini dan menemukan sebuah blog yang menuliskan tentang beberapa kemungkinan mengapa bahu dan leher bisa begitu sakit seperti yang kurasakan. Salah satunya adalah kemungkinan adanya syaraf yang terjepit dan salah satu pengobatannya adalah dengan cara dibedah untuk membebaskan syaraf tersebut.
Selagi aku memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, dokter berkata “..hmmm…kalau dilihat dari hasil MRI sih hasilnya bagus…” Allahu akbar !! Subhanallah….itu yang terlontar dalam benakku…sambil terus mendengarkan dokter tersebut berkata ” memang ada pengapuran sedikit, tapi itu normal sejalan dengan usia, syaraf-syaraf juga bagus, terlihat dari aliran yang tak menampakkan adanya penyumbatan…semuanya bagus, gak ada masalah”. Alhamdulillaah……legaaa rasanya, hilang sudah segala kekhawatiran yang sebelumnya sempat terbayang-bayang. Tapi trus kalau ga ada apa2 kenapa aku begitu kesakitan? ” bisa jadi karena posisi anda yang salah…berjam-jam di depan komputer tanpa mengubah posisi atau melakukan relaksasi” jelas sang dokter. hmmm….betul juga. Selama ini memang kalau pekerjaan sudah numpuk apalagi yang mendekati deadline, kejar tayang…secapek apapun aku g perduli yang terpikir pekerjaan harus selesai jangan sampai negara kena denda karena kesalahanku. hmmmm……………
” Trus apa yang harus saya lakukan dok, untuk menghilangkan sakit ini, dan apakah bahu saya nantinya bisa normal seperti sedia kala?”
“Bisa saja, asal anda rajin stretching, tidak memaksakan diri saat sudah capek”
Aku diam sejenak, teringat tujuan utamaku melakukan MRI
“Dok, kalau dengan fisioterapi bisa membantu gak Dok?” tanyaku pelan, takut dikira sok pinter or sok tahu, hiks…
“Bisa, kalau anda mau saya bisa rekomendasikan untuk terapi”
oalah..jadi kalau aku tadi tidak melontarkan pertanyaan tadi, belio gak akan ngasih rekomendasi? ![]()
“Iya..dok, tolong rekomendasikan Dok, biar nanti saya cepet pulih Dok.” sahutku cepat, takut kalau2 belio berubah fikiran.
Akhirnya, belio menulis surat referensi yang ditujukan kepada Dokter Rehab Medik dan resep yang harus ditebus.
(maaf..harus bersambung lagi…waktu tidak mencukupi untuk melanjutkan..Insya Allah diteruskan lain waktu. Mohon doanya ya….
)
Aku ingin menulis…..
Aku ingin menulis…
Tapi terlalu banyak yang ingin kutulis
hingga kutak tahu mana yang akan kutulis
Aku ingin menulis…
Tentang segala yang kurasa
Tentang segala yang kulihat
Tentang segala yang kudengar
Aku ingin menulis….
Beribu kata yang berlompatan di kepalaku
Beribu kalimat yang seolah berlomba saling mendahului
mencuat-cuat
menjurai-jurai
hingga kubingung merangkainya menjadi jalinan paragrap yang saling menaut
Sungguh….
Aku ingin menulis…..
Lanjutan, pengalaman MRI..
Alhamdulillah, akhirnya ada waktu untuk melanjutkan tulisan terdahulu.
Pada tulisan sebelumnya, saya belum menyampaikan alasan kenapa saya akhirnya balik lagi ke dokter…
Pertama adalah..saya betul2 penasaran ada apa sih dileher saya? kedua…saya ingin mendapatkan terapis perempuan,
ketiga…saya ingin lokasi terapi lebih dekat karena bisa menghemat ongkos transport (kalau ke Joglo sekali terapi ongkos minimal Rp 95.000)
Keempat…kembali ke masalah biaya…kalau di RS biaya terapi (kata teman yang pernah terapi) Rp 75.000….
Oke, akhirnya tiba juga hari yg telah ditetapkan, setelah melalui beberapa prosedur administrasi (biasalah RS, pake ASKES lagi) akhirnya saya memasuki ruang tunggu MRI. Bisa dikatakan ruang tunggu itu lumayan mewah..ada kursi tamu yang (mungkin dulunya) lumayan empuk
, udaranya sejuk (pake AC), ada pesawat televisi 21″ (kalo g salah), dan disediakan koran edisi hari yg bersangkutan.
Satu persatu pasien dipanggil, masing2 melewatkan waktu sekitar 25 menit didalam ruang MRI. Sambil menunggu, saya H2C (harap2 cemas gitu loh..) berdoa agar saya tak perlu disuntik (katanya sih untuk lebih memperjelas syaraf yang akan di foto, lagipula kalau pake suntik biayanya Rp650rb kl tanpa suntik Rp450rb yg hrs dibayar cash). Akhirnya giliranku pun datang, saya dipersilahkan memasuki ruangan yang suhunya lebih dingin…dan diminta berganti pakaian diruang khusus (ya iyalah..masak diruang terbuka hiii…) semua perhiasan harus dicopot (termasuk yg berbahan emas), HP harus ditinggal diruang tunggu or di loker, jam tangan…pokoknya memasuki ruang MRI harus bebas perhiasan dan hanya memakai baju “seragam” RS.
Setelah berganti pakaian, saya dituntun oleh perawat menuju ruang yang didalamnya terdapat mesin/alat MRI yang berbentuk silinder, yang kalau ditutup mirip sebuah kapsul or pesawat ruang angkasa mungkin ![]()
Kemudian saya disuruh berbaring di tempat yang mirip tempat tidur yang terhubung dengan mesin MRI, diselimuti, bagian kepala ditahan oleh penyangga yang membuat kita pada posisi menghadap ke atas, dan bagian dagu ditutup dengan sebuah alat yang mirip (apa ya..) pokoknya untuk menyangga dagu dan diminta untuk tidak bergerak selama minimal 15 menit! dan telinga diberi headset yang bunyinya berasal dari salah satu radio swasta…dan, saya ditinggal sendirian di ruangan itu.
Setelah semuanya siap…saya merasa tempat berbaring saya bergerak naik kemudian bergerak menuju tabung silinder. Setelah posisi mesin telah pas, mulai terdengar suara berderak…sempat kaget juga tapi kemudian saya hibur diri sendiri bahwa semuanya under control. Meskipun telinga saya dipenuhi suara samar2 sebuah lagu, tapi suara berisik yang dihasilkan oleh mesin MRI tetap terdengar jelas. Terkadang ada kilatan-kilatan cahaya di atas kepala saya, mirip kilatan listrik …deg-degan ..pasti iya..tp tetap saya penuhi hati dengan istighfar dan tasbih, dan doa semoga Allah selalu melindungi saya dan meridhoi semua ikhtiar saya…(sebegitunya ya…?
)
Setelah sekian lama diam tak bergerak…hingga leher saya mulai terasa capek, akhirnya masuklah seorang perawat, perlahan tempat berbaring saya bergerak keluar dari tabung (legaaaa rasanya) kemudian segala peralatan yang ada di atas tubuh saya dilepas dan tempat berbaring saya bergerak turun. Selesai sudah MRI. Setelah berganti pakaian kembali saya diminta untuk menunggu hasilnya diruang tunggu semula.
Sekitar jam 11.00 hasil MRI telah saya terima, dan kembali saya melalui beberapa administrasi agar bisa ketemu dokter ahli syaraf hari itu juga. Dan kembali saya harus menunggu diperiksa…..(to be continue..he..he…maaf ya…)
-
Archives
- April 2012 (1)
- January 2012 (2)
- June 2011 (2)
- April 2011 (1)
- March 2011 (1)
- January 2011 (1)
- December 2010 (2)
- November 2010 (4)
- October 2010 (2)
- July 2010 (3)
- February 2010 (1)
- January 2010 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


