Ujian boleh nyontek lho…!!!! :( :( :( :o
Sungguh..postingan ini kubuat karena rasa geregetan hati ini pada pemberitaan media massa (TV,Koran,Radio,inet) tentang segala tindak kecurangan dalam ujian nasional.
Awalnya aku mengira bahwa itu hanya isu saja (pdhl udah ada tayangannya juga ya… bloon mode on nih
) tapi begitu dapet laporan langsung dari ibu2 yang anak2nya ikut UN waktu acara arisan RT di perumahanku kok aku jadi geregetan plus merinding juga ya …. ditambah lagi keterangan tetanggaku yang kebetulan bekerja sebagai staf disebuah SMAN di lingkungan kami yang menyatakan bahwa semua itu dilakukan karena adanya perintah dari para atasan sekolah (maksudnya dari Kepsek, Kepsek dari Dinas, Dinas dari atasnya lagi dan atas atasnya lagi hingga sampai ke Bupati/Kepala Daerah) untuk mengejar target tingkat kelulusan…. huaaaaaaaa
bener g sihhhh ??? 
Merinding? hiii…gimana g merinding, di rumah kita selalu berusaha menanamkan pemahaman bahwa jujur itu penting plus ditunjang dengan pendidikan bidang studi Agama (sesuai agama masing2) dan Ilmu Sosial yang diberikan di sekolah yang jelas-jelas selalu mengajarkan untuk berbuat jujur, tidak curang dalam bersikap dan bertindak.
Plus aku yakin, bahwa pada saat menerangkan kedua pelajaran (bidang studi) itu, pasti para guru juga menekankan agar anak2 berbuat JUJUR !!
Eh..lha..kok…pada saat ujian tiba, malah diberi contekan jawaban? atau dibiarkan nyontek dari buku (ngerpek..istilah daerah saya) atau malah diberi keleluasan untuk kerjasama dalam menyelesaikan soal ujian…huuuuhhhh 
Sebagai orang tua, jujur (lho) aku merasa sedih, cemas, khawatir, bingung campur aduk g karuan dan merasa rugi juga kalau hal tersebut sampai terjadi di sekolah anak2ku (untuuung anak2kua belum harus melalui UN).
Sedih, karena apa yang kuharapkan agar budi pekerti jujur itu dapat juga ditanamkan melalui media pembelajaran di sekolah ternyata harus sirna. 
Cemas, karena aku merasa bahwa kejujuran itu bisa2 hilang dari benak anak2…hiks
Khawatir, karena ketakutan anak2 tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena ternyata dilingkungan sekolahnya sesuatu yang sebenarnya tidak diperbolehkan menjadi boleh (bahkan mungkin wajib) pada saat-saat tertentu karena ‘mengejar’ target ![]()
Bingung…kalau (semua) sekolah di Indonesia seperti itu, kemana lagi harus menitipkan anak2 untuk mereguk ilmu? sekolah ke LN? aaahhhh…..mampu g ya? 
Satu lagi…terus terang..aku juga akan merasa rugi membayar sekolah (yang terkenal mahal) jika ternyata di sekolah nanti anak2ku bukannya tambah pinter tapi tambah bodoh bukan hanya dalam ilmu tp juga dalam akhlak!
Kutanya Ibu2 tetangga itu, gimana perasaan beliau2…ternyata jawabannya sama dengan yang kurasakan. Mereka geregetan, sedih, bingung, cemas campur aduk jadi satu saat anak2 mereka bercerita….
Mereka bilang, mereka ingin anak2 jujur meski kesulitan dalam menghadapi soal2 UN
Mereka ingin anak2 tumbuh dalam pemahaman bahwa segala sesuatu itu harus diperjuangkan termasuk dalam hal kelulusan sekolah.
Tapi apa daya..kalau (ternyata) semua itu sudah tersistem, dari hulu ke hilir…….
Salah2 kalau komplain nanti malah dicibir..hmpffff…bingung..bingung
Ketika Sebulir Jeruk Menjadi Tak Halal
Copas dari http://www.halalguide.info/
Semoga menyadarkan kita bahwa kebiasaan “icip-icip” sebelum membeli itu tidak diperbolehkan.
Ketika Sebulir Jeruk Menjadi Tak Halal
February 15th, 2010
Dalam sebuah kesempatan belanja rutin bulanan keluarga kecil saya beberapa waktu lalu saya menyadari, betapa mudahnya zat-zat haram mengancam keluarga saya.
Pada waktu itu, seperti biasa saya dan istri mengajak kedua putri kembar kami yang masih balita mengunjungi sebuah pasar swalayan baru di dekat rumah kami. Kedua putri saya nampak bersemangat setiap kali diajak berbelanja di awal bulan. Kami pun dengan segera menyelesaikan urusan belanja kami di swalayan yang cukup besar itu.
Setelah semua kebutuhan bulanan telah kami masukkan ke keranjang belanjaan, istri saya mengajak kedua putri saya menuju tempat buah segar, sementara saya tidak mengikuti mereka bertiga, karena masih ada barang yang harus saya cari. Tidak jauh dari tempat buah-buahan saya mendapatkan apa yang saya cari, maka saya segera kembali menuju istri dan anak-anak yang sedang berada di dekat rak “jeruk shantang” yang berukuran kecil.
Melihat jeruk yang berukuran mini itu, anak bungsu saya tertarik. Tanpa sepengetahuan umminya, anak saya yang sedang berdiri di dalam keranjang belanjaan langsung mencomot sebutir jeruk dari atas rak dan mulai mengoyak kulitnya sedikit demi sedikit. Saya yang dari jauh mengamati aksi anak saya tersebut tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Seketika itu secara spontan saya meneriaki istri saya, sembari memberi isyarat agar jeruk yang dipegang anak saya itu tidak sampai masuk ke mulutnya.
Jeruk itu belum ditimbang! Itulah masalah utamanya..!!
Saya tak bisa membayangkan, segigit jeruk yang belum ditimbang akan menjadi komponen haram dalam daging putri kecil saya itu. Ya, jeruk yang dimakan dalam swalayan, tanpa ditimbang tentunya tidak akan masuk ke dalam jumlah yang kita bayar di kasir, berarti jeruk itu sebenarnya masih milik swalayan – bukan sampel untuk dicoba – yang dimakan oleh putri saya tanpa membayar..!!
Untungnya saya bisa mencegah hal itu terjadi, akhirnya istri saya membawa jeruk yang sudah terkelupas kulitnya tersebut bersama beberapa jeruk yang lain ke tempatt penimbangan. Setelah petugas penimbang memberikan label harga pada sekantong jeruk tadi, barulah si bungsu saya izinkan untuk melanjutkan memakan jeruk yang diinginkannya, walaupun belum kami bayar ke kasir – namun sudah ada label harga yang harus dibayar ke kasir.
Sepulang dari kejadian di swalayan itu, masih ada yang mengganjal di hati saya. Kulit jeruk yang dikupas oleh anak saya tadi, tidak ikut tertimbang…! Saya hanya berdoa, semoga kulit yang tak tertimbang tadi tidak sampai mempengaruhi harga yang tertera di label, seandainya kulit itu ikut tertimbang…
Mari kita jaga keluarga kita dari tumbuhnya daging haram sekecil apapun…
2/5/10 ba’da subuh
Penulis: Rizky Mukhlisin (masrizky.wordpress.com)
-
Archives
- April 2012 (1)
- January 2012 (2)
- June 2011 (2)
- April 2011 (1)
- March 2011 (1)
- January 2011 (1)
- December 2010 (2)
- November 2010 (4)
- October 2010 (2)
- July 2010 (3)
- February 2010 (1)
- January 2010 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS


